Print

(Sebuah catatan putra desa terpencil yang tak pernah menulis tentang dan untuk desanya sendiri)

It`s time to write a memorial village I was born. Ya inilah saatnya menulis sebuah desa kenangan, desa dimana 23 tahun silam seorang Muhammad Jamzuri yang tak lain adalah penulis artikel ini dilahirkan.

Desa terpencil yang tepatnya terletak di kecamatan Batu Ampar, kabupaten tanah laut di bagian selatan pulau terbesar ketiga di dunia yaitu Kalimantan. Menurut penulis, desa tersebut merupakan desa termakmur dan terpandang sekecamatan atau bahkan sekabupaten kota saat ini. Durian Bungkuk, begitulah nama yang disematkan teruntuk desa yang penulis maksud.

Untuk menjangkau Durian Bungkuk sangatlah mudah, terminal induk Banjarmasin yang berada di kilo meter 6 kota itu tahu angkutan mana yang menuju ke desa tersebut.

Ini dikarenakan nama Durian Bungkuk sendiri sudah terlalu familiar di telinga rakyat negara bagian Selatan Kalimantan tersebut. Dari Plaihari, ibu kota daerah tingkat dua Tanah laut, 17 KM ke arah selatan tepatnya, negeri para migran yang mayoritas berasal dari Jawa Timur itu berada.

Benar. Desa tersebut awalnya merupakan kawasan pengembangan program Transmigrasi Pemerintah periode pertama di sekitar tahun 60-an . Awalnya desa ini merupakan bagian desa Jilatan, desa bersuku Banjar yang merupakan penduduk asli setempat dan kemudian merdeka dan memisahkan diri menjadi desa mandiri. Pada akhirnya Durian Bungkuk berhasil melampaui desa induknya di perlbagai bidang, terutama bidang kesejahteraan rakyat dan kecukupan pendidikan.

Tadinya, penduduk desa tersebut mengelola tanah jatah Transmigrasi dengan metode bercocok tanam ala tradisional. Pelbagai jenis ragam palawija, sayur-sayuran dan bahan makanan pokok di tanam tanah tersebut. Mereka menjalankan sirkulasi kehidupan dengan mengkonsumsi sendiri dan menjual sebagian hasil cocok tanam mereka. Dan hasilnya, dalam kurun 30 tahun sejak mereka tinggal di desa tersebut, perkembangan ekonomi belum meningkat berarti bahkan stagnan.

Pada akhirnya, cara pengolahan lahan tradisional tersebut berakhir sekitar tahun 1994 dimana lahan berpuluh-puluh hektar yang sebelumnya hanya dimanfaatkan sebagai tempat kembala sapi dan kerbau, perlahan-lahan disulap pemerintah menjadi lahan perkebunan karet. Proyek Pemerintah dibawah naungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III yang diselenggarakan dengan sistem kredit pertanian tersebut kini membuahkan hasil. Bahkan saat ini, beberapa lahan sisanya ditutup dengan pengadaan perkebunan sawit oleh perorangan. 5 tahun kemudian proyek yang proses pelaksanaan dan kontrolnya dinilai gagal tersebut mengubah ratusan persen kesejahteraan masyarakat. Sekurangnya-kurangnya pendapatan perkapita desa tersebut berkisar 3 hingga 10 juta perbulan.

Dari segi pemberdayaan lahan dan pelestarian lingkungan di desa tersebut pernah kecolongan, dimana sekitar tahun 1998 hingga 2000 mendadak lahan landai, mencakup tebing dan persawahan dikeruk habis-habisan oleh proyek tambang emas warga. Penambangann emas saat itu menjadi trend mata pencaharian yang menggiuarkan dimana pelbagai unsur masyarakat rela terjun ke lubang-lubang tambang guna memburu batu surga. Namun sayangnya, tren yang menyebar di penjuru pulau Kalimantan saat itu tidak diperhatikan oleh Pemerintah, sehingga di beberapa titik persawahan desa hancur dan berubah menjadi danau danau kecil yang tak bisa dimanfaatkan hingga saat ini. Penulis ingat betul bagaimana saat itu anak-anak seusianya ikut-ikutan berjibaku bersama lumpur limbah tambang, kurang lebih seperti kisah Laskar Pelangi.

Mengenai pendidikan, Durian Bungkuk okelah. “Mungkin“ sekabupaten Tanah Laut, Durian Bungkuk satu-satunya desa yang memiliki 2 sekolah dasar yaitu SDN Durian Bungkuk I dan II. Bahkan untuk penyelenggaraan UN, SDN Durian Bungkuk I dipercaya sebagai penyelenggara bagi peserta didik kelas VI yang berasal dari siswanya sendiri dan dari SDN II serta peserta didik dari SDN desa Damarlima dan SDN desa Jilatan yang kedua merupakan desa Jiran. Selain itu keberadaan SLTPN 4 Jorong yang kemudian alih nama menjadi SLTP 2 Batu Ampar semakin menyemarakan khazanah pendidikan desa tersebut.

Setelah melanglang buana semenjak tahun 2003 silam tepatnya setelah berhasil menjadi lulusan generasi ketiga SMP tersebut, penulis sadar bahwa dirinya belum mampu memberikan apa-apa untuk desa penuh kenangan tersebut. Buaian kehidupan momanden/berpindah-pindah dengan fasilitas memadai dari satu kota ke kota lain, dari provinsi satu ke provinsi lain, dari kekasih satu ke kekasih yang lain (mestinya ga usah disebutkan :D ), dari pulau satu ke pulau lain, dan dari negara satu ke negara lain tidak mampu memmbuat penulis melupakan desa itu. Walaupun kecil kemungkinan penulis bisa kembali dan tinggal disana, namun penulis akan dengan bangga membantu kemajuan desa dimana penulis dilahirkan dan dibesarkan tersebut. Dan tentunya sesuai kapasitas dan kapabelitas yang penulis mampu.

Teruntuk Grup Facebook Durian Bungkuk Crew, mari kita bicarakan wujud desa impian yang kita mau.

Peran Pemimpin dan Masyarakat

Dengan pergantian dan mengawali periode kepemimpinan desa untuk beberapa tahun kedepan, Durian Bungkuk, baik masyrakat maupun pemimpinnya secara tidak langsung menyetujui adanya semangat pembaharuan dalam memajukan desa dipelbagai lini. Sehebat apapun sosok pemimpin yang bekerja tanpa dukungan rakyat, maka sosoknya tak lebih baik baik dari sebongkah berlian yang berada planet mars, tidak ada gunanya.

Menuru penulis, Kepala desa sebagai pemimpin wakil pemerintah yang berada di front terdepan dalam menyapa dan berinteraksi dengan rakyat harus menyadari sejauh mana takaran Kapabelitas, Kredibelitas dan Akseptabilitas yang dimilikinya.

  1. Kapabelitas. Yaitu kemampuan yang cukup untuk memajukan desa, baik dari sisi leadership, pengetahuan dan manajemen.
  2. Kredibelitas. Yaitu track record kepribadian yang baik, seperti jujur, komitmen yang tinggi, amanah, terpercaya, tidak arogan, bisa kerja sama, dan menghargai pendapat dan kritik masyarakat.
  3. Akseptabilitas. Dapat diterima dan diapresiasi oleh semua golongan.

Untuk menjadi pemimpin yang mempunyai 3 pilar utama kepemimpinan di atas sangatlah sulit, karena sama-sama kita ketahui bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dan tugas seorang pemimpin yang telah menyadari bahwa dirinya belum mempunyai 3 pilar tersebut adalah “kemauan” untuk belajar dan memperbaiki dirinya sendiri, untuk dirinya dan masyarakat guna terhindarnya kekecewaan.

Lalu bagaimana masyrakat harus bersikap dalam pembangunan desa?. Penulis ingat satu istilah demokrasi “truly power to the people” Kekuatan sesungguhnya ada di tangan masyrakat. Masyrakatlah pilar utama penggerak pembangunan suatu wilayah. Seperti yang penulis utarakan diatas bahwa sosok pemimpin hebat tiada artinya tanpa sokongan dari rakyat. Artinya semua lapisan masyarakat, baik pendukung dan mencalonkan sosok yang saat ini berhasil memenangkan pemilihan ataupun pihak oposisi/rival harus begandengan tangan guna mendukung program pembangunan yang dicanangkan melalui hasil musyawarah mufakat bersama.

Bentuk dukungan tak sebatas manut pitutur (ikut apa kata) kepala desa, namun juga dengan aktif memberi ide dan berani menyampaikan kritik solutif dan kunstruktif, bukan yang destruktif. Bentuk-bentuk program yang menyangkut kepentingan masyrakat luas mesti didiskusikan dalam satu majlis yang mewakili pelbagai unsur masyarakat baik aparat-parat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama yang ada, pendidik, karang taruna dan lain-lain. Kemudian melaksanakannya secara proaktif.

Pemuda Sebagai Agen Perubahan

Dalam sebuah pidatonya, Bung Karno menyerukan “Berikan saya sepuluh pemuda dan akan saya guncang dunia”. Pidato tersebut membakar semangat pemuda saat itu, bahwa mereka mampu merebut kembali kemerdekaan yang telah mereka dapatkan di tahun 45. Dengan pidato tersebut, Bung karno meyakinkan pemuda Indonesia bahwa mereka mampu menguasai dunia jika ia mampu. Begitupun dengan pemuda Durian Bungkuk mampu mengguncang tanah laut, Kalimantan selatan bahkan dunia jika ada kemauan yang kuat.

Pemudalah yang nantinya meneruskan laju sirkulasi kehidupan desa. Karena beban kehidupannya yang belum seberapa, pamuda lebih banyak waktu luang untung berfikir dan bergerak guna membangun desa. Dengan darah mudanya yang masih berkobar, Ide-idenya lebih gereget dan kena sasaran, namun terkedang terkesan emosional. Dan penulis melihat ada beberapa pemuda Durian Bungkuk yang mempunyai kepedulian dan concern yang kuat dalam membangun desa yang nyaman yang tidak membosankan bagi masyarakatnya.

Sebut saja di sebuah grup facebook yang mereka namai “Durian Bungkuk Crew”. Di sana mereka aktif sharing informasi dan pemikiran bagaimana memajukan desa. Dari kampanye penanaman pohon durian, hingga pengadaan grup drumband yang kesemua itu dengan tujuan sama yaitu kemajuan desa. Kekuatan yang dibangun dari grup kecil itu bila dimanfaatkan dengan baik akan menjadi awal penggerak bagi pemuda-pemuda lain, sehingga ketergugahan dan kesadaran akan pentingnya rasa kepemilikan desa di mata semua lapisan masyarakat terwujud.

Berikut yang bagi penulis perlu untuk diperhatikan;

  1. Pergaulan

Awalnya penulis senang mendengar kabar bahwa teknologi informasi masuk ke desa tersebut, apalagi masuknya jaringan internet yang diharapkan mampu menjadikan masyarakat desa melek teknologi. Namun keberadaannya yang minim kontrol dari orang tua tersebut membuat pemuda bahkan anak-anak kecil dibawah umur yang seharusnya memanfaatkan kemudahan informasi dari jaringan internet dengan sebaik-baiknya, justru digunakan untuk mengkonsumsi konten-konten yang justru merusak moral. Sumbernya tak hanya dari jaringan internet yang terpasang di perangkat komputer, namun dari telepon genggam satu ke telepon genggam lain yang secara pasti akan merusak generasi muda di pedesaan yang harusnya steeril (bersih) dari virus moral tersebut.

Dampaknya sangat mengkhawatirkan dibanding di beberapa wilayah yang pernah penulis huni. Ini disebabkan adanya perbedaan kelas pengetahuan teknologi yang jauh antara generasi muda melek teknologi dan generasi tua yang susah memahaminya. Sehingga, hal ini menjadikan kemampuan kontrol orang tua terhadap apa yang diperbuat oleh anak-anaknya sangat minim. Melihat kasus-kasus amoral yang telah tejadi di desa tersebut, Penulis tak tega menuliskan sampelnya.

  1. Kampanye Durian

Yang menarik saat awal-awal bergabung dengan grup facebook tersebut adalah adanya kampanye penanaman durian dengan misi mengembalikan identitas asli asal muasal desa penamaan desa tersebut yaitu “Durian Bungkuk”. Sebenarnya ide ini bagus, namun berat untuk merealisasikannya, pasalnya durian bukanlah komoditi tumbuhan yang menjanjikan ditambah lagi lahan yang semakin berkurang.

Mumpung masih hangat-hangatnya kampanye durian, penulis mencoba menawarkan dan merekomendasikan kepada aparat desa untuk memanfaatkan lahan desa yang selama ini tidak pernah disentuh dan dikelola dengan baik. Salah satu pemanfaatnya dengan membuat taman durian yang dikelola bersama, dananya bisa diabil dari sumbangan sukarela masyarakat. Sehingga pengelolaan dan pengawaannya lebih fokus.

Sebenarnya kampanye ini lebih mengena jika dicanangkan dengan sistem satu warga/keluarga satu pohon, namun hal ini terkendala dengan minimnya lahan yang dimiliki perorangan saat ini. Jikapun kampanye ini gagal, bukan berarti kita kehilangan identitas desa “Durian”, buat saja monumen durian sebagai penggantinhya seperti yang dilakukan oleh kota Surabaya. Surabaya membuat monumen “Suro dan Boyo” karena tak mampu memaksakan diri mempunyai penangkaran dua binatang air tersebut di tengah kota.

  1. Aktifitas Civitas Karang Taruna

Sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan (sejajar dengan PKK, RT, RW, LPM dll) yang secara fungsional merupakan organisasi sosial wadah pembinaan generasi muda, memiliki peran yang krusial sebagai pilar utama dalam membangun kesejahteraan. Paling tidak ada tiga peran utama pokok yang dibebankan kepada Karang Taruna, yaitu; pertama. Peran Fasilitif, meliputi beban sebagai animasi sosial, mediator, negosiator, dan organisator kelompok pemuda aktif.

Kedua, Peran Edukatif yang mencakup tugasnya membangkitkan kesadaran masyarakat, menyampaikan informasi kekinian yang tidak mampu dicerna oleh generasi tua dan menyampaikan pelatihan. Adapun peran ketiga adalah peran perwakilan masyarakat (presentational roles) yang denganya Karang Taruna terntutut untuk melakukan obtaining resources (mencari sumber daya) yang bisa dikembangkan, advokasi, public relation (hubungan masyarakat), networking (mencari jaringan) dan sharing pengetahuan dan pengalaman.

Sehingga dengan kesemua itu, Karang taruna akan dianggap peranannya sebagai pencerah dan sumber inspirasi pembangunan desa.

Sekedar Usul dari Penulis

Untuk menjadi desa yang unggul dan dikenal keunggulannya oleh khalayak luas, sebuah desa harus mempunyai suatu gebrakan yang berbeda, bisa nyeleneh bin sensasional maupun berkelas atau jika perlu MURI bisa mencatatnya sebagai rekor Nasional. Untuk membuat dan menjalankan ide-ide hebat itu, Karang Taruna pemuda mesti mempunyai keberanian dan tekad super.

Karena kapebelitas saya sebagai tenaga kependidikan dan beberapa tahun terakhir berkecimpug di sebagai tenaga kependidikan maka penulis mencoba memberikan ini dari sisi bidang pendidikan, kita bisa menjadikan Durian Bungkuk sebagai desa pertama di Kalimantan yang mewajibkan berbahasa Inggris pada hari-hari tertentu atau tempat-tempat tertentu. Teknisnya bisa dibicarakan dengan aparatur pendidikan dan saya rasa jika aparaturnya peduli akan masa depan yang baik pasti akan mendapat dukungan.

Kedua, penulis mengajak Karang Taruna untuk membuat media cetak berupa Selebaran, bulletin atau majalah desa yang bisa diterbitkan sekali dalam sepekan atau dua pekan sekali. Dengan keberadaan majalah tersebut diharapkan misi melek informasi sehat kepada masyarakat terpenuhi. Redaksi bisa mengangkat rubrik-rubrik krusial yang terjadi di Durian Bungkuk dalam sepekan seperti rubrik berita, profil tokoh masyarakat dan diwarnai dengan rubrik-rubrik yang sifatnya menyegarkan dan menyenangkan. Dengan begitu, Karang Taruna sebagai pelaksana mempunyai kesibukan rutin mempersiapkan majalah yang akan diterbitkan setiap pekannya. Pendanaanya bisa didapatkan dari iklan yang dimuat di majalah maupun hasil oplah penjualan. Penulis sendiri 100 persen siap membantu dan ambil bagian dalam merealisasikan program ini. Dan jika majalah desa ini terealisasi, penulis siap menghantarkannya ke meja kementerian pendidikan dan memberitakannya di pelbagai media besar tanah air.

Karena mendapatkan informasi yang cukup adalah hak seluruh warga Indonesia dimanapun berada, dengan menulis untuk desa, mari kita wujudkan masyarakat Durian Bungkuk yang melek Informasi.

Ketiga. Sejak penulis memulai merasakan aura pendidikan di pulau Jawa ada beberapa hal yang jelas berbeda salah satunya mutu pendidikan. Sebenarnya yang dipelajari sama, buku panduannya juga sama-sama atas rekomendasi Kemendiknas, namun cara menyampaikannya yang berbeda, baik oleh tenaga pendidiknya maupun fasilitas penunjang sekolahnya. Metode pembelajaran di desa itu perlu dipoles dengan upgrading kemampuan ajar tenaga pendidik dan pengadaan fasilitas pendidikan tepat sasaran. Dan biayanya mahal, padahal APBD kota-kota di Kalimantan lebih tinggi daripada di pulau jawa. Ternyata setelah penulis telusuri, kebanyakan sekolah-sekolah di pulau jawa memiliki jaringan/networking yang kuat dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang konsen dalam kemajuan pendidikan di Indonesia dan dunia secara cuma-cuma.

Kebetulan beberapa bulan lalu, saat penulis ditugaskan sementara di Kementerian Pendidikan Pusat bertemu dan mengobrol dengan beberapa lembaga resmi di bawah kemendiknas yang proyeknya memberikan upgrading terhadap sekolah-sekolah di desa terpencil. Salah berbicara dan bercerita kesana kemari, akhirnya penulis mendapat pencerahan untuk pengiriman tenaga dari Lembaga “Indonesia Mengajar” ke sekolah dimana penulis dilahirkan, namun prosesnya harus melalui persetujuan sekolah setempat. Tak hanya “Indonesia Mengajar” yang berminat, saat bertemu dengan bagian publikasi United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang berapa lalu penulis resmi menjadi salah satu anggotanya - pun mengutarakan ketertarikannya bersambang ke Durian Bungkuk suatu saat nanti. Apapun itu, penulis ingin mendapatkan izin dan kerjasama dari masyarakat Durian Bungkuk.

Penutup

Terlalu banyak yang sebenarnya ingin penulis sampaikan dalam artikel berjudul “Untuk Durian Bungkuk – The Memorial Village” ini. Terlalu banyak yang dikenang dan terlalu banyak yang perlu dirubah dan dikembangkan, namun terlalu banyak juga rintangan menghadang. Sesulit apapun itu, keberanian dan tekad kita untuk maju yang membuat mimpi-mimpi untuk Durian Bungkuk kita itu terwujud. Mari bersama-sama bergandengan tangan, bahu membahu saling menguatkan dan menyadarkan bahwa untuk kemajuan desa ini adalah tanggung jawab kita sebagai generasi muda. Dan kita pasti mampu semua itu.