Liberalisme merupakan sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama. Istilah Liberal lahir dari dunia Barat pada abad pertengahan sebagai upaya masyarakat kelas bawah yang terkekang hidupnya oleh kaum bangsawan pada saat itu.

Pada perkembangannya, liberalisme mempengaruhi ke berbagai ranah kehidupan, di antaranya dalam beragama. Salah satu dampak dari leberalisme beragama di Eropa ialah lahirnya kebebasan intelektual pada abad 16 hingga 17, dimana kekangan gereja dan kerjaan berhasil dipatahkan dengan penemuan-penemuan ilmiah yang bertentangan dengan doktrin agama. Momentum tersebut disebut sebagai era pencerahan atau “Renansiance” yang kemudian melahirkan paham baru bernama Sekularisme, dimana agama dianggap sebagai noda atau penghalang bagi kemajuan, sehingga ada upaya pemisahan urusan agama dan Negara.

Beriring denghan aksi imperalisme dan kolonialisme Eropa ke wilayah Timur, termasuk wilayah Timur Tengah dan Islam, paham Liberalisme pun dikenalkan kepada umat Islam pada saat itu. Lambat laun, liberalisme terhadap beragama Islam pun difikirkan oleh para pemikir Islam saat itu. Sebut saja, pada awal abad 20 muncul tokoh Ali Abdur Raziq (w. 1966) dengan karyanya al Islam wal Ushul Hukm (Islam dan Asal Hukum). Dalam buku tersebut, Raziq menggambarkan bahwa syariat Islam semata-mata bersifat spiritual tanpa ada kaitannya dengan pemerintah dan kekuasaan eksekutif. Pemahaman seperti ini jelas bernuansa alam pikir liberal.

Pada sekitar tahun 80-an, di Mesir, Ali Muhammad Said (1930 – sekarang) atau dikenal sebagai Adonis menulis disertasinya dengan judul At Tsabit wal Mutahawwil, atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “Yang tetap dan yang berubah”. Meskipun sejatinya buku ini berisi tentang sastra Arab, akan tetapi di dalamnya terdapat substansi tentang liberalisme. Adonis menggali dan mengkritik kemandegan berfikir orang Arab dalam berbagai hal. Aktivitas bangsa Arab dan Islam selama ini lebih cenderung mengikuti dan terlalu mematuhi doktrin-doktrin lama ulama klasik dibandingkan upaya mereka untuk mengayak lebih dalam khazanah keilmuan yang ada. Di dalamnya terdapat pesan bahwa seharusnya para tokoh-tokoh intelektual Arab untuk tidak terpaku terhadap doktrin yang telah ada, dan berusaha menginterpretasikannnya lebih jauh dan luas. Doktrin dimaksud oleh Adonis adalah Islam yang khas di dunia Arab.

Menanggapi karya fenomenal Adonis, pertanyaan mendasar yang sel­alu menjadi bahan diskusi adalah apa­kah agama dalam dirinya sendiri mengakomodasi kemungkinan pe­ru­bahan ?; sejauh mana perubahan bisa ditolerir dalam agama ?; ba­g­a­i­mana batas-batasnya; mana yang bisa diubah dalam agama ?, dan ma­na yang tidak ?; apa batas-batas an­tara yang tetap dan yang berubah ?. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan selalu menjadi "debat pe­rennial" atau diskusi abadi dalam aga­ma, bukan saja dalam Islam tetapi juga dalam setiap agama. Atau lebih tepatnya, hampir semua masyarakat menghadapi per­tanyaan seperti ini. Ini adalah masalah yang relevan untuk semua masyarakat di dunia saat ini.

Mengutip dari Ulil Abshar Abdala dalam sebuah wawancara eksklusif majalah Afkar, ia mengatakan bahwa kalau kita lihat bagaimana agama selama ini bekerja, tampak bahwa agama, dalam satu segi, berlaku seperti sebuah kulkas atau lemari es. Banyak hal yang akan menjadi cepat busuk kalau tidak ada agama yang "mengawetkannya" dalam sebuah kulkas. Kulkas itu tiada lain adalah agama itu sendiri. Ulil mengutip kalimat Karl Marx yang terkenal dalam Manifesto Komunis yang menggambarkan dengan baik perubahan-perubahan yang terjadi karena revolusi kapitalis di dunia modern, "All that is solid melts into air, all that is holy is profaned". Segala hal yang semula padat meleleh dan menguap menjadi udara, segala hal yang semula dianggap suci kemudian berubah menjadi sepele dan remeh-temeh. Apa yang dikatakan Karl Marx dmenggambarkan dengan baik bagaimana hal-hal yang semula dianggap "awet", "padat", "tsâbit", kemudian menjadi meleleh dan menguap, menjadi "mutahawwil" karena revolusi borjuis. Ini semua terjadi kerena perubahan-perubahan yang cepat yang terjadi di masa modern ini. Perubahan-perubahan ini membuat semua orang berpikir kembali tentang semua hal.

Lantas bagaimana Islam seharusnya menanggapi potensi-potensi liberalisme pada ajarannya. Disini penulis menyetujui bahwa di dalam ajaran Islam ada yang bersiftaf tetap/pasti (Tsabit/Qath’ii) dan bersifat berubah/belum pasti (Mutahawwil/Dhonny). Perangkat-perangkat Islam yang tsabit dan Qath’ii seperti rukun islam; syahadat, shalat,puasa, zakat dan haji tidak bisa interpretasi melalui nilai-nilai atau prinsip liberal. Namun sebalikya, hal-hal yang masih samar seperti teori khilâfah sangat memungkinkan. Banyak kalangan aktivis Islam yang percaya bahwa bentuk negara Khilafah adalah satu-satunya bentuk negara yang sah dalam Islam karena itulah bentuk negara yang dicontohkan oleh Nabi. Mereka tak sadar bahwa bentuk negara mengikuti terus perubahan zaman, dan dalam hal ini menurut saya agama tak perlu menjadi semacam "kulkas" untuk mengawetkan bentuk negara tertentu agar berlaku untuk segala zaman dan tempat. Baiduzzaman Said Nursi, seorang ulama fundamentalis Islam turki yang juga oposisi Kemal Attaturk yang yang sekular, berpendapat bahwa bentuk Republik adalah bentuk yang paling mendekati dengan konsep musyawarah dalam Islam.

Pengaruh terbesar dalam nilai-nilai Islam yang nampak hingga saat ini ialah bagaimana konsep berbangsa dan bernegara diterapkan dalam masyarakat mayoritas Muslim, baik yang berada di Timur Tengah maupun Indonesia. Mereka lebih memilih konsep Negara demokrasi yang liberal dan sekular dibadingkan dengan konsep bernegara yang dianggap Islami. Dipilihnya sistem liberal tidak tanpa alasan, karena umat merasa sudah jenuh, bahkan tidak lagi percaya dengan konsep pemerintahan lama yang mengeklaim dirinya sebagai konsep Islam. Akan tetapi pada praktiknya justru sama sekali tidak menggambarkan nilai Islam sama sekali. Citra buruk yang ditampilkan oleh pemimin berlabel Islam justru mencitrakan keburukan Islam pada umumnya. Kecondongan umat Islam dengan memilih sistem demokrasi liberal ini, oleh Hasan Al-Banna (pendiri Ikhwanul Muslimin) dianggap sebagai gerakan putus asa.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344