Manusia sebagai makhluk sosio mendapatkan tugas legal sebagai seorang khalifah fil ard berlegitimasi resmi dari penguasa tunggal alam raya, Allah Swt. untuk mengelola apa yang ada di dalam dan di atas bumi. Legitimasi pengelolaan ini mengisyaratkan bahwa dirinya berhak dan berkewajiban menjadi sosok pemimpin baik untuk dirinya sendiri, keluarga, maupun kelompok persekutuan lebih besar seperti organisasi kemasyarakatan dan instansi kepemerintahan.

Dengan kata lain tak ada seorang pun di dunia ini yang boleh mengelak bahwa dirinya tidak bisa menjadi pemimpin. Terlebih, terciptanya keragaman karakter manusia yang terbentuk berdasarkan kikisan masa dan kawasan menjadikan keterbutuhan atas suatu hukum yang dikelola oleh seorang Pemimpin, wakil Tuhan sebagai penyelenggara kehidupan penuh harmoni di bumi. Dan setiap dari insan mesti yakin bahwa setiap darinya disengaja dilahirkan untuk berkemampuan memimpin.

Pemimpin sebagai pemegang kendali, dan masyarakat sebagai yang dipimpin merupakan partner dalam penyelenggaraan organisasi yang harus saling bersinergi. Keduanya harus sama-sama tahu dan sadar atas fungsi masing-masing peranannya guna merealisasikan semangat kemajuan dan kemakmuran yang telah disepakati dan di-visi-kan. Karena, kejayaan sebuah organisasi tak hanya bergantung pada pentadbirnya, yaitu sosok pemimpin sebagai pengarah sistem kerja, akan tetapi atas peran dan prestasi kolektif seluruh anggota.

 

Seorang pemimpin merupakan ujung tombak sebuah organiasasi. Apapun keputusan seorang pemimpin akan menentukan langkah selanjutnya organisasi. Maka dari itu, seorang pemimpin dengan semangat profesionalitasnya harus memiliki keunggulan lebih dari yang dipimpinnya. Keunggulan tersebut meliputi dapat tercermin atas tiga aspek utama kepemimpinan ideal, yang meliputi; aspek kapebilitas, kredibilitas dan akseptabilitas. Tanpa ketiganya, roda keterbelangsungan hidup organisasi menjadi seok dan berujung pada krisis kepemimpinan.

Kapabilitas. Merupakan kemampuan seorang pemimpin untuk menyelanggarakan organisasi, baik dari sisi leadership, pengetahuan, maupun manajemen. Penyelenggaraan organisasi yang dimaksud tidak hanya sebatas seperti menyalakan bara api unggun, namun menjagaya agar tetap menyala dan membesarkan apinya, sehingga fungsi dari api unggun tersebut benar-benar maksimal. Fungsi api unggun tersebut bisa sebagai penerang ditengah kegelapan, penghangat di suhu dingin dan mematangkan bongkahan daging rusa yang dipanggang di atasnya, sehingga rasa lapar orang-orang di sekitar api unggun terobati.

Dengan kapabilitas yang cukup, seorang pemimpin tahu bagaimana ia mengelola api unggun agar tetap menyala dan memaksimalkan fungsinya. Ia tahu bagaimana mensinergikan kemampuan anggotanya yang beragam untuk berandil dalam menyelanggarakan proses organisasi yang dipimpinnya, sehingga semua elemen sadar bahwa memaksimalkan fungsi organisasi adalah tanggung jawab bersama.

Kredibilitas. Merupakan akumulasi tingkat kepercayaan berdasarkan kepantasan pribadi yang dianataranya dapat dilihat dari track record karakter dan intergritas kepribadian yang baik. Untuk menjadi seoarang pemimpin berkarakter baik bukanlah sebuah pilihan, tapi keharusan. Karisma bisa saja mampu membuat seorang pemimipin bersahaja, akan tetapi hanya karakter baiklah yang bisa membuat pemimpin benar-benar berharga, terpandang dan bertahan di puncak kepemimpinanya.

Untuk membangun dan mempertahankan kredibilitasnya, seorang pemimpin harus berpijak pada hukum integritas dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut;. Kongruen (konsistensi antara perkataan dan perbuatan), Kejujuran (komunikasi yang dapat dipercaya dan janji yang ditepati), Keterbukaan (transparansi dalam tindakan maupun perkataan), Otoritas (posisi atasan yang kuat, bisa memimpin dengan demokrasi maupun diktator), Kemitraan (tanggung jawab atas komitmen yang dibuatnya, delegasi dan empowerment), Kinerja (tanggung jawab atas semua organisasi dan pekerjaan yang diemban), Kepedulian (pelayanan dan memberi lebih pada pengikutnya), dan Penghargaan (penghormatan kepada diri sendiri maupun anggotanya).

seorang pemimpin yang berkrdibel harus bisa menempatkan dirinya sebagai visioner dan mempunyai tujuan jelas yang kesemuanya dikomunikasikan secara cerdas ke anggotanya, sehingga semua elemen tahu dan pada akhirnya turut bersinergi dalam mencapai tujuan akhir yang mereka tuju. Selain itu, ia harus bisa menginspirasi dan memberikan arti yang mendalam atau arti yang positif sehingga pihak-pihak terpimpin mengalami kemajuan dan berhasil memunculkan potensi terbaik didalam dirinya.

Akseptabilitas. Adalah penempatan pribadi pemimpin yang bisa diterima dan diapresiasi oleh semua golongan. Akseptabilitas merupakan buah dari aspek Kapabilitas dan Kredibilitas yang telah dilaksanakan oleh pemimpin. Aspek ini menjadi sangat penting, utamanya bagi sebuah organisasi yang dibangun oleh keragaman karakter, seperti Indonesia, karena dengan akseptabilitas tesebut kemampuan dan kelayakannya sebagai yang memimpin membuat dirinya dapat diterima oleh semua golongan. Dalam artian yang lebih ringan, seorang pemimpin harus mampu berdiri di atas semua golongan.

Benar adanya, untuk menjadi sosok pemimpin yang memiliki 3 pilar utama di atas sangatlah sulit, karena sama-sama kita tahu bahwa di dunia ini nyaris tak ada manusia sempurna yang siap memimpin. Dengan keterbatasan tersebut, seseorang yang telah mempimpin (baca:terlanjur) harus memerankan dirinya sebagai learner yang mau (baca:sadar) mempelajari dan mengasah dirinya untuk menjadi pribadi mapan yang benar-benar pantas memimpin dan bertanganggung jawab atas peran-perannya. Sehingga, ia kemudian bisa menjalankan amanah yang secara tidak langsung diembankan oleh Tuhan kepadanya.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344