Print

Malam itu saya sedang bepergian ke sebuah pemukiman padat. Tepatnya di sebuah perkampungan di lereng pegunungan tak jauh dari pusat kota. Meski bukan wilayah di mana saya tinggal, akan tetapi banyak dari warga masyarakatnya yang sangat familiar parasnya, dan beberapa diantaranya dapat saya kenali dengan baik.

Tujuan kedatangan saya malam itu untuk membeli bahan-bahan yang akan saya olah dan akan dijual kembali. Tak lama, bahan yang dicari pun ditemukan dan segera saya bertransaki dengan sebuah keluarga penjaja bahan tersebut. Pun saya sangat familiar dengan paras-paras keluarga tersebut, namun tidak dapat mengenali nama-nama mereka. Yang saya ingat hanyalah paras mirip seorang pejabat, namun dalam kehidupan yang sederhana.

Di tengah proses traksaksional dengan keluarga tersebut, terjadi kejadian di luar dugaan. Bumi tempat kami berpijak terguncang perlahan hingga pada skala yang semakin besar. Mulanya tak satu pun dari kami yang terlihat panik, karena sebuah gempa bumi telah biasa kami rasakan selama kami dilahirkan di tanah ini. Kepanikan justru mulai kami rasakan saat gempa terhenti dan digantikan dengan gemuruh yang sangat hebat. Namun kami belum beranjak dari tempat kami berdiri malam itu.

Kepanikan terhenti seketika ketika tiba-tiba terdengar suara yang begitu indah dan sangat menyentuh hati. Suara itu ialah lantunan shalawat yang sangat merdu, namun tak satu pun kita yang tampak mengetahui dari mana asal suara itu. Yang kita tahu bahwa setiap dari kita mendengar dari arah yang sangat dekat dengan telinga kita masing-masing. Asal suara tak menjadi fokus pikiran kami lagi saat kami menyadari bahwa kemiringan bumi yang kami pijak bergeser dan berubah menjadi lebih terjal dari tekstur tanah sebelumnya. Dengan pergeseran tersebut pandangan mata ke wilayah kota tampak lebih jelas. Namun bukan pemandangan keindahan kota yang kami lihat, karena justru kehancuran dunia-lah yang kami saksisan. Hingga saat itu kami menyadari bahwa saat itu lah akhir dari dunia, akhir dari sejarah peradaban dunia, akhir segalanya. Sebuah daratan yang biasa kita lihat keindahan pijaran lampu kotanya dari tempat ini telah menjadi lautan lahar panas dan semakin merambat mendekat ke arah kami.

Dengan apa yang terjadi, situasi tak lagi dapat terkontrol, di mana masing-masing individu sibuk dengan tingkah dan perilaku kepanikan masing-masing. Saat itu kami memperoleh kabar bahwa sebuah pesawat telah disiapkan di sebuah tanah lapang di pegunungan tersebut yang katanya diperuntukan menyelamatkan kami. Saat itu yang kami mau adalah sesegera mungkin untuk berada di tempat kami akan diselamatkan tersebut. Tak satu pun bekal yang terpikirkan untuk kami bawa serta kecuali apa yang melakat di tubuh kami. Ingat betul bahwa saat itu saya hanya mengenakan celana selutut dan kaos oblong serta sebuah sarung terkalung di pundak yang diberikan oleh kakak di tengah perjalanan. Di tengah kepanikan kami, ada beberapa sahabat yang saya kenal belum menyadari dan tampak kebingungan dengan apa yang terjadi. Tampaknya mereka baru terjaga dari tidurnya dan mendapati dirinya di tengah kepanikan yang tidak ia pahami.

Malam itu ada suatu hal yang mungkin tak hanya dirasakan oleh saya. Memori perilaku/tindakan yang tak menyenangkan dan tak seyogyanya terjadi selama hidup terputar dalam ingatan. Nyaris tak ada sesuatu yang teringat dalam benak kecuali dosa-dosa yang telah saya kerjakan. Bagaimana saya berlaku sebagai hamba yang tak taat atas perintah-perintahnya dan bagaimana perilaku tak hormat dengan sesama hamba jelas terlihat dalam ingatan. Tetesan air mata penyesalan-penyesalan yang jatuh tak lagi berarti, karena saya sendiri yakin bahwa neraka adalah tempat yang telah disediakan Allah kepada saya jika kiamat benar-benar terjadi saat itu.

Di tempat yang kami tuju, kepanikan semakin menjadi-jadi. Tak satu pun yang ada di tempat itu mengetahui siapa sebenarnya yang mengirimkan pesawat tersebut. Tak satu pun yang kami jumpai di dalam pesawat, kecuali sebuah kertas pemberitahuan bahwa pesawat tersebut tanpa awak kabin, tanpa pilot dan tak mempunyai bahan bakar untuk terbang. Sebagian besar dari masyarakat saat itu hancur harapannya. Bagaimana mungkin penyelamatan akan terjadi dengan kondisi seperti. Namun entah bagaimana, kertas tersebut seperti sebuah sabda, tanpa ada goresan tinta lain seakan-akan berbicara kepada setiap orang = bahwa pesawat dapat diterbangkan jika kita mau dan berusaha memikirkan bagaimana solusinya.

Seketika kepanikan berubah menjadi kesibukan yang berarti, di mana setiap orang seakan-akan merupakan bagian dari sebuah pekerjaan besar dengan tugasnya masing-masing. Beberapa orang yang tampak seperti ilmuwan sedang sibuk dengan mencoba menemukan bahan bakar pesawatnya, beberapa orang tampak sibuk dengan mencari tahu bagaimana pesawat dapat dikemudikan, dan beberapa kelompok lain, terutama anak-anak sibuk mengumpulkan ranting kering untuk difungsikan sebagai bahan bakar tungku masak yang sedang dikerjakan oleh kelompok perempuan.

Pukul 03:14 WIB. Ketika menyadari diri saya berada di atas tempat tidur, apa yang terlihat di atas hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang tak hanya sebagai bunga tidur, akan tetapi mimpi yang sangat berarti, mimpi yang mengilhami, mimpi yang tak dapat membuat mata terpejam lagi. Gejolak hati dalam mimpi dapat saya rasakan seperti nyata adanya. Air mata yang membasahi pipi segera saya basuh dengan air wudlu, dua rakaat malam, dan doa ampunan paling dalam dari lubuk hati. Hingga menjelang subuh saya mencoba mentadaburi dengan apa yang saya saksikan dalam mimpi, dan mencoba menuangkan dalam tulisan ini.

____

Mungkin tak banyak dari kita sadar bahwa kiamat, sebagai akhir dari kehidupan dunia telah semakin dekat. Bahkan mungkin juga tak sedikit dari kita –manusia- yang tak percaya bahwa hari itu ada, yaumul hisab itu ada, neraka dan surga itu ada. Namun saya sebagai seorang beragama Islam saya meyakininya, bahkan posisinya bagian dari rukun iman dalam Islam.

Kapanpun datangnya ia, mungkin sebagian besar dari kita tak akan siap untuk mempertanggung-jawabkan apa yang telah kita perbuat di hadapan sang pencipta. Apa yang kita kejar di dunia tak satu pun yang bisa menolong dan kita ke bawa ke hari itu kecuali amal yang shaleh. Amal shaleh ini bisa bermakna vertikal, namun juga bisa bermakna horizontal. Amal shaleh bermakna vertikal berarti hal-hal yang berkaitan dengan ketauhidan/ketuhanan, di mana di dalamnya terkait bagaimana kita memperlakukan diri sebagai sebaik-baiknya hamba kepada penciptanya, sejauh mana kita mematuhi perintah dan menjauhi larangannya. Adapun amal shaleh bermakna horizontal terkait bagaimana kita berinteraksi dengan sesama umat manusia, antara muslim dan muslim, antara kita dan non muslim dan interaksi lainnya. Hubungan horizontal ini lah yang saya rasa sangat menghawatirkan, karena perilaku tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan terhadap sesama manusia tak akan diampunkan oleh Allah kecuali atas maaf oleh yang disakiti.

Dengan mengingat hari akhir, berarti kita bersedia untuk mengintropeksi diri, dan memastikan diri bahwa di hari tersebut kita bukanlah dari kelompok yang terbakar oleh api. Contoh kecil intropeksi diri tersebut dengan cara melihat ke dalam cermin kita sendiri. Sudahkah kita beribadah dengan benar, tidak kah kita pernah menyakiti sesama, bersihkan hati kita, halal kah rizki yang kita peroleh adalah contoh-contoh pertanyaan yang patut kita gantung di depan mata kita setiap saat. Sehingga kapanpun hari itu akan datang, kita telah siap untuk menjalaninya.

Dengan modal Islam, kehidupan kita di dunia modern sudah sangat tercukupi, karena Islam dengan Al-Qur’an dan Hadits, serta Ijma para ulama sebagai perangkatnya telah mempresentasikan bagaimana kita harusnya bertata hidup/way of life. Dengan perangkat tersebut, apa yang kita lakukan, apa yang kita kerjakan, apa yang pikirkan, dan apa yang kita ucapkan bisa mendatangkan dapat mendatangkan keuntungan dunia dan akhirat. Meski antara dunia dan akhirat dalam Islam tidak dapat dipisahkan akan tetapi untuk mencapai keduanya tersebut ada ilmunya masing-masing yang berbeda, dan Islam lah yang menyatukan perbedaan tersebut. Kita bisa jadi berbicara soal politik, berbicara soal teknologi, berbicara soal fenomena alam dalam kerangka di luar Islam, akan tetapi semua tersebut telah ada dalam ayat-ayat Al-Quran dan telah banyak ilmuwan, bahkan dari kalangan non Islam yang mengakui hal tersebut. Oleh sebab itu tak benar jika Islam tidak mendukung modernisasi, bahkan sejak 16 abad yang lalu pondasi ke arah kehidupan modern telah tertuang dalam Al-Quran. Untuk itu apa yang kita kerjakan di dunia sebenarnya telah menjadi cukup untuk modal kehidupan kelak di akhirat jika dilandasi dengan Iman yang kuat pula.