Print

Seorang kerabat sering menanyakan kapan menikah. Pertanyaan bernada guraun yang membuat kesal, juga membuat saya berfikir bahwa mempersiapkannya mesti dari sekarang. Berfikir agak sedikit kolot, karena setelah difikirkan saya sendiri masih terlalu muda untuk bersegera mempunyai pendamping hidup sah menurut agama dan catatan KUA.

Menikah bukanlah proses pendewasaan seperti banyak orang tua bilang, namun merupakan sebuah keputusan dua insan yang berlawan jenis untuk hidup bersama-sama dalam naungan satu cinta dan cita yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mewujudkan cinta dan cita yang dibingkai dengan misi kebahagiaan dunia dan akhirat itu perlu kematangan jiwa dan raga atau yang sering disebut dengan

kedewasaan.

Kedewasaan merupakan modal terpenting dalam pernikahan, dengannya apapun yang terjadi pasca ikrar sucinya lelaki sebagai imam kepada hawanya adalah tanggung jawab dari keduanya, bukan salah satu diantaranya saja. Kedewasaan sendiri tercipta ketika diantara keduanya mampu mengendalikan keogoisan pribadi demi kemasalahatan bersama, saat satu masalah datang, bukan semakin diperkeruh namun dikomunikasikan dengan tenang dan bijaksana.

Memang benar bahwa pernikahan tidak bisa dimatematiskan dengan berapa standar kelayakan materi seseorang siap menikah. Namun paling tidak, kesadaran bahwa membina keluarga yang mapan dan terbebas dengan masalah materi tentu lebih harmonis dan menyenangkan. Bagi saya sebagai lelaki, standar kelayakan tersebut dipandang seberapa mampukah menghidupi calon istri dan anak yang akan hadir beberapa saat kemudian baik sandang maupun papannya. Satu contoh misalnya; saat istri sedang hamil, secara pribadi saya tak akan membiarkannya ke puskesmas sendirian ataupun beserta saya menaiki agkutan umum yang mana dari segi keamanan dan kenyaman menggangu kehamilannya.

Atau begini sajalah, budaya, suku, adat istiadat pola interaksi masyarakat Indonesia itu terlalu beragam, ditambah lagi beragamnya pola pikir masing-masing individu yang menjadikan standar kesiapan pernikahan pasti berbeda. Namun satu hal yang perlu kita catat bahwa untuk menikah seorang lelaki harus benar-benar telah benar-benar menimbang diri apakah benar-benar siap untuk menjadi seorang imam dan begitu pula seorang wanita harus benar-benar siap untuk dipimpin oleh seorang imam.

Imam sendiri merupakan tokoh sentral negara kecil bernama keluarga. Seorang imam mesti paham bagaiamana ia memutuskan sesuatu dengan meniadakan sifat gegabah. Dan untuk memutuskan menikah, seorang lelaki harus benar-benar tahu bagaimana sifat dan karakter gadis yang akan dipersuntingnya, terutama kepribadiannya baik dari segi kelebihan dan kekuranganya. Begitu pula sebaliknya bagi seorang wanita, mesti mengerti kepribadian lelaki yang akan mempersuntingnya. Sehingga ketika keduanya memutuskan untuk hidup bersama, diantaranya telah sama-sama tahu dan kemudian bertanggung jawab atas keputusannya untuk membina cinta dan cita secara bersama.

Lalu kapan saya siap menikah?. setelah saya bertapa beberapa menit dikursi goyang yang dengan ikhlasnya terjajah dua tahun belakang akhirnya saya satu keputusan selain yang telah disebutkan diatas. Saya akan menikah pada saat diri benar-benar siap untuk tidak merepotkan kedua orang tua baik tenaga maupun materi untuk melaksanakan hajat sakral itu. Dan sebelumnya harus memastikan kesiapan diri untuk membahagiakan gadis yang akan menjadi permaisuri di istana yang telah disiapkan sebelumnya, bukan setelah menikah.