Kawasan teluk atau Jazirah Arab adalah istilah yang digunakan untuk mendiskripsikan wilayah dimana bangsa Arab tinggal. Kawasan ini merupakan sebuah Jazirah (semenanjung besar) di Asia Barat Daya, di persimpangan benua Asia dan Afrika atau lebih tepatnya di kawasan Teluk Persia.

Perbatasan pesisir jazirah ini ialah: di barat daya Laut Merah dan Teluk Aqabah; di tenggara Laut Arab; dan di timur laut terdapat Teluk Oman dan Teluk Persia.

 

Secara Geopolitik terdiri dari negara Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait dan Oman. Pada 25 Mei 1981 negara-negara kawasan ini mendirikan organisasi negara-negara teluk “Cooperation Council for the Arab States of the Gulf” (CCASG; Arabic: مجلس التعاون لدول الخليج العربية‎). Namun dalam pembahasan kali ini, kita juga memasukan wilayah-wilayah yang secara geografis masuk dalam kawasan Teluk yaitu Yaman, Irak dan Iran.

Menurut pakar geologi, pada awalnya wilayah ini tersebut pada awalnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan wilayah sahara (kini dipisahkan oleh lembah Nil dan Laut Merah) dan kawasan berpasir yang menyambungkan Asia melalui Persia bagian tengah ke Gurun Gobi. [1]

Sebagia besar wilayah ini merupakan kawasan pegunungan dan gurun pasir. Pegunungannya membentang menurun dari wilayah barat ke teluk Persia dan dataran rendah Mesopotamia, diantaranya pegunungan al-Adhar di sebelah pesisir timur Oman yang ketinggiannya mencapai 9900 kaki. Adapun gurun-gurun ekstrimnya antara lain; Nufud Besar, Rab al Khali, al Dahna dan al Harrah.

Kawasan Teluk dalam wilayah “Timur Tengah”, kawasan orang-orang Timur (baca:belahan bumi timur dan barat) yang berada di tengah-tengah peta dunia, memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri dibandingkan belahan bumi lain. Dewasa ini, permasalahan-permasalahan transnasional seperti keamanan, politik, eknonomi dan sosial menjadi isu hangat dan sepertinya telah di setting untuk tidak akan pernah ada akhirnya. Permasalahan krusial wilayah ini meliputi; perbatasan, senjata pemusnah masal (Irak-Iran), perdagangan narkotika, penyelundupan senjata dan terorisme. Permasalahan-permasalahn tersebut merupakan problema global yang mempengaruhi kehidupan dunia Internasional.[2]

  1. A. Perkembangan Ekonomi Timur Tengah
    1. 1. Pelabuhan Dagang

Sebelum lahirnya era minyak pada awal ke-20, kawasan Teluk utamanya di pesisir pantai selatan berperan sebagai jalur penghubung ke pasar-pasar India dari Barat dan Somalia dari Timur.[3] Salah satunya Aden, sebuah pelabuhan alamiah Yaman, di mana kapal-kapal dari Ethiopia dan India berlabuh. Jalur timur melalui pesisir pantai semenanjung Arab bagian selatan dan hingga teluk Persia merupakan jalur penguhubung melalui lautan dari Yaman ke Irak dan menerukan melalui darat ke Syam. Di jalur itu, para pedagang melintasi pasar-pasar Yaman, Irak, Palmyra, dan Syiria. Di setiap wilayah mereka menjual komoditas yang tidak ada di sana, dan juga membeli komoditas wilayah itu untuk dibawa ke wilayah-wilayah lain.

Oleh karena beberapa faktor, untuk sementara waktu, perkembangan ekonomi kawasan ini bisa dibilang stagnan dan luput dari perhatian dunia. Salah satu faktornya adalah sukar dijangkaunya oleh para ekspedisi dagang, utamanya dari Eropa. Untuk menjangkau kawasan Teluk, para ekspedisi yang berasal dari Eropa dapat melalui tigas jalur. Pertama melalui daratan, yaitu jalur Sutra dari Allepo (Syiria) menuju teluk Persia (Irak) dan kemudian melanjutkan ekspedisi dagangnya ke Asia. Begitu pula ekspedisi dari Asia ke wilayah Eropa maupun Afrika bagian utara. Kedua, para ekspedisi dari Eropa dapat melalui semenanjung Harapan di Afrika bagian selatan, namun rute perjalanan laut yang terlalu jauh memakan waktu dan biaya yang tak sedikit. Jalur ketiga adalah melalui semenanjung Sinai di Mesir yang memisahkan Laut Mediterania dan laut Merah. Para ekspedisi mengosongkan kapalnya terlebih dahulu dan mengangkutnya melalui darat.

Kebuntuan lajur perdagangan ini kemudian terpecahkan setelah digalinya terusan Suez di semenanjung Sinai pada tahun 1870oleh Perancis. Pesisir bagian selatan semenanjung menjadi lebih ramai dan fungsi pesisir pantai bagian selatan sebagai pelabuhanpun semakin meningkat. Peningkatan jumlah kapal-kapal ekspedisi dari Eropa utamanya Inggris, Perancis, Belanda dan Portugis, membawa warna perubahan yang mencolok terhadap kawasan ini. Pasalnya mereka tidak hanya berdagang atas produk revolusi Industri mereka, akan tetapi juga membawa misi Kolonialime.

Pada era kedinastian Usmani, kawasan teluk memang kurang mendapat perhatian pemerintahan pusat, bahkan bisa dibilang kawasan yang merdeka. Dampaknya secara keamanan, kawasan teluk, utamanya di pesisir pantainya tidak dapat dikontrol, apalagi, pesisir ini pada dulunya dikenal sebagai pesisir Perompak. Namun, Inggris yang menguasai pesisir teluk, berhasil mengusir kawanan perompak yang sering menganggu. Boleh dikata ada ketergantungan jaminan keamanan terhadap Inggris.

Puncak atas ketergantungan keamaan tersebut, mengakibatkan negara-negara seperti Yaman, dan kawasan koloni Aden, Kesultanan Masqat dan Oman dan beberapa kerajaan kecil yang dipimpin oleh Syeikh dan daerah perwalian Otonom Qatar dan Bahrain, serta Kuwait dinyatakan sebagai negara otonom dibawah protektorat Inggris. Pernyataan pengawasan keamanan oleh Inggris tersebut ditandatangi dalam kurun tahun 1820 antara para Syeikh hingga yang terbaru 1916 oleh Qatar. Selanjutnya wilayah-wilayah dalam kawasan teluk ini satu persatu merdeka dimulai tahun 1961. [4]

Konsekwensi atas perlindungan yang diberikan oleh Inggris kepada wilayah ini adalah dengan diberikannya kebebasan dagang Inggris di wilayah-wilayah tersebut. Sehingga Inggris mendapat keuntungan besar atas monopoli perdagangannya. Bahkan monopoli dagangnya hingga menguasai India dan merambah Asia melalui penguasaan wilayah Teluk ini.

Hingga zaman modern, setelah wilayah-wilayah teluk ini berdiri sebagai negara yang merdeka, sektor perdagangan tetap menjadi salah satu penopang perekonomian Timur Tengah. Pertumbuhan pelabuhan baik secara jumlah maupun kesibukannya semakin meningkat setelah terusan Suez di Mesir berhasil dinasionalisasikan dan mempermudah jalur perdagangan antara benua. Fungsi dan peran pelabuhannya juga meningkat seiring dibukanya perdagangan bebas dunia.

Bahkan baru-baru ini, Kuwait dan Irak kembali bersitegang dikarenakan niat Kuwait yang akan membangun pelabuhan di pulau Bubiyan, salah satu pulau terbesar di teluk Persia. Irak mengkhawatirkan rencana Pelabuhan Kuwait sebab berpotensi membuat sesak perairan di wilayah itu, yang juga menyulitkan pergerakan kapal memasuki Pelabuhan Irak.[5]

  1. 2. Minyak Bumi

Revolusi Industri adalah anak kandung Renansiace Eropa. Ditemukannya mesin uap, pemutar turbin yang menggerakkan mesin-mesin industri membutuhkan sumber energi. Pada mulanya, mesin uap dijalankan dengan bara api dari kayu. Setelah ditemukannya batu bara, perannya digantikan olehnya. Begitu pula ketika lahir era minyak, tanpa mengenyampingkan peran batu bara hingga seakarang. Kargo-kargo perdagangan yang mulanya diangkut menggunakan perahu layar, digantikan dengan perahu-perahu Mesin yang bahan bakarnya dari batu bara dan minyak bumi.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada awal abad dua puluh, kebutuhan bahan bakar minyak mulai meningkat. Sementara itu, di Eropa sebagai tempat lahirnya alat-alat industri tidak dapat memenuhi kebutuhan akan minyak tersebut. Sehingga pada masa-masa ini, selain tetap berdagang, bangsa Eropa, terutama Inggris mulai mencari sumber minyak bumi yang bisa dieksploitasi untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan industri mereka. Sumber minyak bumi-pun ditemukan di kawasan teluk dan hingga saat ini menjadi pemasok terbesar bagi kebutuhan minyak bumi dunia.

Penemuan minyak di Irak merupakan titik awal meningkatnya kepentingan bangsa-bangsa Eropa ke wilayah ini. Pada 1925 Perusahaan Minyak Irak (Iraq Petroleum Company) dibangun, dengan konsesi untuk jangka waktu tujuh puluh lima tahun.[6] Dengan berdirinya kilang minyak di Irak, peningkatan pendapatan pemerintah meningkat. Dengan hasil ekspor minyaknya, untuk pertama kali memungkinkan melaksanakan pembangunan irigasi dan pengendalian banjir wilayah tersebut. Untuk lebih meningkatkan pendapatannya, pada 1950, sebuah dewan pengembangan dibentuk yang tugasnya mengontrol sebagian besar pendapatan dari minyak. Dewan ini juga bertugas untuk mengolah pendapatannya untuk kebutuhan pembangunan Irak, diantaranya; pembangunan dam-dam di anak sungai Tigris untuk pengairan lahan pertanian.[7]

Sumber-sumber minyak bumipun ditemukan di negara-negara lain seperti di Iran, Kuwait, Arab Saudi dan beberapa negara di kawasan bagian utara benua Afrika yang cakupannya masih di wilayah Timur Tengah. Sehingga produksi minyak mentah dunia didominasi oleh kawasan ini. Faktanya, pada tahun 1970, kawasan ini memasok 60% kebutuhan dunia.[8] Di lain sisi, bangsa Eropa dan Amerika merupakan konsumen terbesar dunia. Dunia mengamini bahwa minyak, hingga saat ini merupakan komiditi ekspor menjajikan yang membawa perubahan dan perkembangan ekonomi yang mencolok bagi negara asalnya.

Sayangnya, sejak awal, konsesi-konsesi eksploitasi minyak, penyulingannya dan ekspornya, dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Asing. Sebagian besar kegiatan eksplorasi tersebut dikendalikan oleh sejumlah kecil perusahaan-perusahaan yang telah memegang monopoli terhadap industri. Sebagian besar minyak tersebut diekspor ke negeri-negeri Barat. Di luar minyak itu sendiri, kontribusi negeri-negeri setempat hanya terletak pada para pekerja tingkat rendah, terampil dan non terampil dan terbatas jumlahnya, karena penyulingan dan pemprosesan minyak tidak menuntut banyak tenaga kerja.

Jelang 1960-an situasi berubah. Makin banyak lelaki lokal yang dipekerjakan pada tugas-tugas yang membutuhkan keahlian tinggi. Pembagian keuntungan antara perusahaan dan negeri setempat pun mulai berubah, walau presentasinya masih sangat kecil. Semenjak tahun 1950, tekanan dari negeri-negeri penghasil melakukan upaya perubahan di dalam kesepakatan yang di buat antara negara penghasil dan perusahaan pengeksploitasi, hingga saham mereka menjadi 50% dari pendapatan bersih perusahaan-perusahaan tersebut.

Usaha negeri-negeri penghasil nampaknya mulai membuahkan hasil, setelah 1960, mereka (tak hanya yang ada di Timur Tengah) secara bersama-sama masuk ke dalam sebuah organisasi negara pengekspor minyak (OPEC), yaitu sebuah organisasi yang bertujuan memajukan front bersama dalam negosiasi dengan perusahaan-perusahaan minyak besar. Di dalam OPEC, mereka saling bekerjsama. Jalan semakin terbuka untuk sebuah proses baru yang akan berakhir dengan pengambilalihan fungsi perusahaan-perusahaan oleh negeri-negeri tersebut, setidaknya dalam kegiatan produksi.[9]

Munculnya kilang-kilang minyak di sebagian wilayah Timur Tengah, memang merangsang perekonomian negeri tersebut. Peningkatan devisa negara mampu membiayai peningkatan pembangunan negara secara signifikan. Namun, tidak semua negeri mempunyai harta yang disebut blak gold (Emas Hitam). Sehingga pada perkembangannya, terdapat perbedaan sangat mencolok di bidang ekonomi antara negeri penghasil dan negeri non-penghasil, yaitu negeri kaya dan negeri miskin. Si kaya tidak menutup mata akan kemiskinan negeri non-penghasil minyak. Faktanya, pada tahun 1970- an, beberapa lembaga seperti organisasi negeri-negeri Arab pengekspor minyak (OAPEC) dan lembaga swasta oleh Kuwait, Arab Saudi dan Abu Dhabi member bantuan yang sangat besar bagi negeri-negeri berkembang di sekitar wilayah mereka. Pada 1979, sekitar $2 miliar diberikan melalui berbagai bidang. Bantuan tersebut terbilang kecil dibanding kekayaan mereka, karena jumlah tersebut hanya sekitar 2,9% dari hasil kotor nasional (GNP) negeri-negeri penghasil minyak.[10]

Minyak Sebagai Senjata Politik

Minyak merupakan sentral perekonomian dunia saat ini. Kestabilan ekonomi akan terganggu jika sumber energi yang menghidupinya terganggu. Konsekwensinya, kestabilan keamanan kilang-kilang minyak harus dijaga. Jika tidak, maka pasokan minyak bumi terganggu dan inflasi harganya terganggu dan iflasi eknomi duniapun ikut serta. Dengan ketergantungan ini, penguasaan atas minyak bumi berarti penguasaan terhadap perekonomian dunia. Itu yang saat ini terjadi, yang menjadikannya senjata politik dunia.

Peristiwa geopolitik yang mempengaruhi pasokan minyak berikut harganya sudah kerap terjadi. Embargo minyak oleh Liga Arab pada perang Arab-Israel pada tahun 1974 telah menimbulkan krisis minyak dunia, dan pertama kalinya minyak dipakai sebagai senjata politik. Revolusi Iran pada 1979 yang diikuti perang Irak-Iran telah menciptakan krisis minyak kedua. Invasi Irak ke Kuwait pada 1990 juga sempat membuat harga minyak meroket. Lebih ekstrimnya, terjadi pada awal tahun 2003, dimana invasi atas Irak oleh Amerika yang bebarengan dengan krisis politik di Venezuela dan Nigeria menyebabkan kekurangan pasokan minyak dunia lebih dari empat juta barel per hari.

Setelah minyak digunakan sebagai senjata politik oleh negara-negara Arab pada perang Arab-Israel tahun 1973-1974, Amerika Serikat dan sekutunya merancang skenario memecah belah negara-negara Timur Tengah, sehingga, tidak bersatu untuk menggunakan minyak sebagai senjata politik.

Arab Saudi, pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, dimanjakan Amerika Serikat dengan berbagai bentuk bantuan persenjataan canggih, penasihat militer, instruktur,dan teknisi. Melalui operasi Badai Gurun, Amerika Serikat juga melindungi Arab Saudi dan Kuwait dari invasi Irak pada 1990. Sebagai kompensasi, Amerika Serikat meminta bantuan uag minyak Saudi untuk membiayai operasi CIA untuk menggulingkan rezim-rezim kiri yang didukung Uni Soviet di Afghanistan, Nikaragua, dan lain-lain.

Para pengambil kebijakan Amerika Serikat sebenarnya enggan bermitra dengan rezim monarki yang dianggapnya “antidemokrasi”, bersepakat bahwa akses terhadap minyak Saudi adalah bagian dari agenda nasional yang harus dipertahankan. Amerika Serikat secara tidak langsung mengobarkan perang Irak-Iran pada 1980. Ketika Irak menginvasi Iran pada September 1980, Washington menyatakan netral dan menjatuhkan embargo kepada pihak-pihak yang bertikai.

Ketika Iran berada di atas angin dan mengancam kepentingan minyak Amerika Serikat di Arab Saudi dan Kuwait, Washington diam-diam menyokong Irak dengan memberinya pinjaman uang, dukungan intelijen, dan transfer senjata secara gelap. Kawasan Timur Tengah yang kaya minyak lantas menjelma sebagai negara yang terpecah-pecah. Arab Saudi tidak mungkin bisa mengambil kembali peran yang pernah dimainkannya pada 1973 yang kompak menghukum Amerika Serikat melalui embargo minyak karena membela Israel dalam perang Arab-Israel.

Arab Saudi yang sudah berada di bawah kontrol Washington tidak mungkin bisa mencegah invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003. Arab Saudi juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika Israel menyerang Libanon pada 2006. Bersama negara-negara Arab lain, Arab Saudi diam-diam menyokong dijatuhkannya sanksi terhadap Iran yang menolak menghentikan program nuklirnya.

Dalih apa pun bisa digunakan, tapi motif yang sebenarnya adalah minyak! Masih sangat membekas dalam ingatan, dengan dalih menyimpan senjata pemusnah massal, Amerika Serikat menumbangkan Saddam Hussein dan menguasai Irak,pemilik cadangan minyak terbesar ketiga di dunia. Publik Amerika Serikat sadar bahwa motif utama invasi Irak adalah minyak, sebagaimana terungkap dalam poster-poster protes mereka yang berbunyi “No Blood for Oil”.

Ternyata, senjata pemusnah massal yang dibuat alasan Bush tidak pernah terbukti. Belakangan di tengah ancaman serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran bila Iran tidak menghentikan program nuklirnya juga menyingkapkan ada upaya lewat diplomasi minyak. Iran dikabarkan telah bersiap-siap menggunakan minyak sebagai senjata diplomatik dengan menutup Selat Hormuz jika terjadi konflik dengan Barat. Teheran memiliki keuntungan diplomatik dengan menutup jalur kapal-kapal untuk pengiriman minyak di selat yang memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman tersebut.

Nampaknya, Amerika seakan takut dan berpikir ulang untuk menyerang Iran sebagai negeri pembangkang atas usahanya mengembangkan senjata Nuklir. Pertama, perlu diperhatikan bahwa untuk melaksanakan penyerangan militer, tentunya Amerika membutuhkan dana yang besar, padahal krisis ekonomi yang melanda paman syam saat ini merupakan imbas dari pembiyaan invansi militernya ke kawasan Timur Tengah, utamanya Irak dan Afgahnistan. Kedua, Amerika serikat merupakan konsumen terbesar minyak dunia, dengan begitu ia sangat tergantung dengan produsen terbesar minyak dunia yang letaknya di kawasan teluk Arab. Jikapun Amerika menyerang Iran, maka akan mengusik ketentraman kawasan selat Hormus dimana kilang-kilang minyak banyak di sekitar wilayah tersebut. Amerika sadar betul bahwa hal tersebut akan membuat malapetaka perekonomian dunia, termasuk negerinya sendiri.

 


[1] Philip K. Hitti, History of The Arabs, Serambi, Jakarta, hal. 16

[2] Ewan. E. Anderson. The Middle East; Geography and Geopolitic. Routledge. London. 2000. Hal. 263

[3] Philip. K. Hitti. Op. Cit. Hal. 7

[4] Ibid. hal. 946-947

[5] Kompas Online. Diakses pada tanggal 31 April 2011. http://internasional.kompas.com/read/2011/08/25/09450235/Pelabuhan.Kuwait.Picu.Keteganga

[6] Philip. K. Hitti. Loc. Cit. hal. 944

[7] Albert Hourani. Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim. Mizan. Bandung. 2004. Hal. 699-700.

[8] Ewan E Anderson. Loc. Cit. hal. 285

[9] Albert Hourani. Loc. Cit. Hal. 704-705

[10] Ibid. hal. 780

 

Daftar Pustaka

  • Philip K. Hitti, History of The Arabs, Serambi, Jakarta
  • Ewan. E. Anderson. The Middle East; Geography and Geopolitic. Routledge. London. 2000
  • Albert Hourani. Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim. Mizan. Bandung. 2004
  • Amany Lubis, dkk. Sejarah Peradaban Islam. UIN Press. jakarta. 2005
  • Prof. Dr. Bambang Cipto, MA. Dunia Islam dan Masa Depan Hubungan Internasional di Abad 21. LP3M UMY. Yogyakarta. 2011
  • Kompas Online. Kompas.com
  • Wikipedia. wikipedia.org

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344