Ada pertanyaan mendasar mengapa tiga agama samawi, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi yang notabene merupakan agama yang diturunkan oleh Allah? Konflik tiga agama ini pada perkembangannya bertransformasi menjadi konflik multi dimensia, tidak hanya sebatas ideologi, namun berkembang ke area konflik suku bangsa hingga saat ini. Konflik ketiga agama ini menjadi konsumsi empuk yang tiada habisnya bagi media dan masyarakat di dunia, bahkan headline-nya tidak mengenal waktu.

Flash back ke ribuan tahun yang lalu, di daratan Kanaan, Nabi Ibrahim As. Mempunyai dua anak lelaki dari istri yang berbeda. Dari istri pertama (Sarah) ia mendapatkan Ishaq, sementara dari istri muda (Hajar) ia menapatkan Ismail. Seperti halnya kisah-kisah sinetron yang kita konsumsi di layar televisi, antara istri tua dan muda tak ada keakuran dan itu akan diwariskan kepada anak cucu mereka. Benar saja, walaupun kedua putra Ibrahim ini sama-sama menjadi Nabi Allah, namun ternyata buah dari kecemburuan Sarah terhadap Hajar menjadikan anak cucunya mewarisi sifat kecemburuan tersebut.

Di kemudian hari, Ismail menurunkan keturunan bangsa Arab Adnani di Jazirah arab, sementara itu, Ishaq mempunuai anak Ya’qub As. yang kemudian disebut Israel dan anak-anaknya disebut Bani Israel. Eksistensi bangsa Israel dimulai mulai era Yusuf As. di Mesir, kemudian Musa, Daud, Sulaiman atau Solomon dan Isa As. Hingga pada era Solomon tersebut kaum mereka masih disebut sebagai Bani Israel. Adapun nama Yahudi dipakai setelah era Solomon, saat kota Israel tepecah menjadi dua bagian yaitu di Samaria dan Judah (Yahudi) yang kemudian ditaklukan oleh Babilonia (580 SM). Benar bahwa Pemerintahan Yahudi berkuasa lagi di Judah, namun tak pernah stabil hingga dihancurkan sama sekali oleh invasi bangsa Romawi ke wilayah tersebut dan mereka eksodus ke sebagian besar penjuru dunia.

Berbekal kitab suci Taurat (Musa) dan Zabur (Daud) bangsa Yahudi mewariskan ajaran Yahudi sebagai ideologi ke anak cucu mereka di berbagai penjuru dunia. Jadi, untuk sementara dapat disimpulkan bahwa Yahudi adalah sebuah ideologi yang terbentuk kemudian, karena, baik Yusuf, Musa, Daud juga Sulaiman tidak pernah memakai istilah itu dalam mengakomodasi ajaran Allah. Penamaan Yahudi sendiri bisa jadi –menurut penulis- dikenal dan dipakai oleh Bani Israel dikarenakan di Yahudi (Judah) lah terakhir mereka dapat bersatu, sehingga ketika eksodus dan terisolasi, nama Yahudi telah melekat di darah mereka.

Perlu dicatat bahwa dari kaum kaum Yahudi ini, terlahir Nabi Isa as. atau oleh kaum Kristiani disebut sebagai Tuhan Yesus. Isa sendiri yang terlahir pada era Romawi ternyata tidak mengakomodir kepentingan Yahudi. Dalam Matius 15:24 menyebutkan bahwa Isa as atau Yesus diutus hanya kepada domba-domba tersesat dari Bani Israel. Dari ayat ini jelas menegaskan kepada sejarah bahwa walaupun Isa sendiri merupakan bani Israel, namun kehadirannya menjadi boomerang. Dengan tegas pula bani Israel menolak kehadiran Injil sebagai ganti Taurat dan Zabur yang telah mereka miliki.

Setelah Bani Israel tercerai berai di Palestina, mereka eksodus ke berbagai belahan dunia. Mereka pergi ke Eropa, ke Jazirah Arab dan ke anak benua India. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah DIASPORA. Bani Israel tercerai berai. Agar mendapat keamanan di Eropa, mereka menjilat penguasa Romawi dan menghasutnya agar memusuhi Isa dan para pengikutnya.

Yang menarik, adalah perilaku Yahudi di Jazirah Arab. Mereka dating ke madinah bukan hanya karena ingin menyelamatkan diri dari kekejaman Romawi. Tetapi mereka juga berniat menjemput kenabian terakhir yang akan datang setelah Isa. Dalam kata lain, Yahudi ingin “memaksakan” agar kenabian itu jatuh ke pangkuan mereka. Kenabian itu mereka butuhkan agar mampu membangun kejayaan Bani Israel seperti pada zaman Sulaiman. Namun kenyataan berkata lain, bahwa kenabian jatuh ke tangan bangsa Arab Adnani sebagaimana tercantum dalam surat al Baqarah ayat 6:

“Dan ketika datang kepada mereka (Yahudi) sebuah kitab dari sisi Allah (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada disisi mereka (Taurat), padahal sebelumnya mereka selalu memohon (kedatangan Nabi) agar dimenangkan atas orang-orang kafir. Maka ketika telah datag (Kenabian dan Wahyu) yang sangat mereka kenal, mereka mengkafirinya. Maka laknat Allah atas orang-orang kafir itu (Yahudi)”.

Yahudi bani Israel sangat marah ketika tahu bahwa kenabian jatuh ke tangan bangsa Arab, anak keturunan Ismail As. Itupun turun di Mekah, bukan Madinah tempat mereka tinggal disana. Yahudi telah habis habisan dalam menanti kedatangan nabi penerus Musa. Ratusan tahun mereka tinggal di Madinah, melebur budaya Arab, berbahasa Arab bahkan memberi nama-nama anak-anak mereka dengan bahasa Arab, bukan bahasa Ibrani.

Memang benar bahwa Yahudi seakan-akan menerima kehadiran Muhammad saat mereka dilibatkan dalam piagam Madinah, namun setelah adanya penghianatan terhadap perjanjian tersebut, bangsa Israel yang kembali mengalami EKSODUS dan DIASPORA dari Jazirah Arab.

Eksklusifitas dan Isolasi

Isolasi yang dialami oleh kaum Yahudi membawa dampak besar dalam menjaga dan memuluskan agenda mereka salah satunya menjaga eksklusitasannya, sejak eksodus pertama hingga eksodus di era masehi hingga kembalinya mereka ke tanah Palestina. Ekslusifitas menjadi sangat penting bagi Yahudi, dikarenakan kesombongan mereka dan kepercayaan diri berlebihan yang menganggap diri mereka sebagai “sebaik-baiknya” kaum di muka bumi, sehingga kaum dari golongan lain haram dan kotor di mata mereka.

Kaum yahudi dalam mengembangkan komunitasnya sangat unik. Mereka tidak berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan mengharamkan asimililasi. Mereka memelihara warisan-warisan agamanya, terutama membangun kesombongan etnik sampai melampaui batas. Mereka menjalankan bisnis berbasis ribawi dan melakukan ritual-ritual pengorbanan yang sama sekali tidak ada dalam Taurat dan Zabur.

Salah satu upaya untuk menjaga eksklusifitas ajarannya, ialah dengan cara menjaga garis keturunannya. Seorang wanita Yahudi tidak diizinkan oleh komunitasnya untuk dinikahi/menikah dengan seorang lelaki non Yahudi. Namun sebaliknya, seorang lelaki Yahudi boleh menikahi wanita non Yahudi. Dengan begitu, tidak ada Yahudi yang keluar nasabnya, namun akan terus bertambah begitu pula ajarannya. Jadi bisa dikatakan bahwa seorang Yahudi adalah mereka yang punya darah Israel, dan setiap Israel belum tentu Yahudi, karena sejak zaman Isa as, keduanya (Yahudi dan Kristiani) telah terpecah.

Upaya kedua untuk menjaga eksklusifitas ajaran Yahudi yaitu dengan cara menutup akses dan ruang bagi public yang hanya sekedar tahu tentang ajaran ini. Maka, sering kita bertanya bahwa kenapa kita tidak bisa menemukan dan bebas membaca literature Yahudi sebagaimana kita bisa dengan mudah membaca literature agama atau ideologi lain.

Nah dari sini, bisa kita tarik benang merah, bahwa isolasi yang pada awalnya seakan-akan mengebiri, mengucilkan dan memisahkan dari peradaban dunia, justru menguntungkan bagi terjaganya ideologi mereka.

Yang menarik adalah, seperti yang telah disampaikan di awal bahwa Yahudi dan Kristiani merupakan keturunan Bani Israel. Walaupun keduanya sebenarnya berseteru dalam hal ideologi, namun di luar itu mereka akur-akur saja, sebagaimana dua saudara seibu (anak Ya`qub dari Ishaq dari Sarah, istri pertama Ibrahim as.). Disisi lain keduanya sepakat untuk tidak sepakat kepada kaum Muslimin yang notabene ajarannya dibawa oleh Muhammad SAW., keturunan Arab Adnani, dari Ismail, anak Siti Hajar, istri kedua/istri muda Ibrahim as. Keduanya, Yahudi dan Kristiani sama-sama menentang ajaran Muhammad yang notabene saudara beda ibu dengan mereka namun sama ayah, yaitu Ibrahim.

Jika kita perhatikan perkembangan Yahudi saat ini, kita bisa pastikan bahwa kaum Yahudi bukanlah pemeluk agama Samawi, sebagaimana Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, Isa as., ajarkan. Mereka adalah orang-orang yang sangat arogan dengan etnisnya. Hakikat agama Yahudi saat ini adalah pemujaan terhadap etnis mereka sendiri. Tidak ada satupun ras manusia yang sangat ekstrim dalam soal etnis, selain Yahudi. Begitu ekstrimnya sampai mereka berani menghina Allah, marah ketika Isa membawa Injil, marah ketika Kenabian terakhir jatuh ke tangan Arab Adnani.

Mereka kemudian menulis kita suci tandingan bagi Taurat (Talmud), menyebut bangsa non Yahudi sebagai Ghayim, merusak kehidupan di muka bumi. Mereka merasa mulia sebagai pewaris “darah biru” nabi-nabi, merasa diunggulkan diantara semua ras dan pernah disumpah langsung oleh Allah di bukit Tursina.

 

Bahan Bacaan:

Aguk Irawan MN. Rahasia Dendam Israel. Kinza books. Jakarta. 2009

Philip K. Hitti. History Of The Arabs. Serambi. Jakarta. 2010

Susan wise Bauer. Sejarah Dunia Kuno. Kompas Gramedia. Jakarta. 2010

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344