Jauh sebelum Perang Dunia pertama dimulai, perseteruan antar bangsa telah terjadi bahkan sebelum peradaban dunia dimulai. Motif utamanya tentu memperluas kekuasaan dan membuktikan keadigdayaan kelompok tertentu terhadap kelompok-kelompok lainnya.

Lebih lanjut dengan keadigdayaan tersebut hegemoni pun menjadi tujuan berikutnya. Karena bagaimanapun dengan hegemoninya karakter dan budaya sang adidaya menyebar dan menjadi budaya semua kelompok. Agenda hegemoni tentu tidaklah berhenti begitu saja, karena dengan pengaruh yang tertanam itulah motif-motif lain yang lebih menguntungkan segera dilaksanakan.

Untuk menguasi satu wilayah atau kelompok tertentu pelabagai alasan pun telah disampaikan hingga saat ini, meskipun lebih terkesan argumentasinya terkesan menghalalkan untuk mengesahkan apa yang telah dilakukan. Dari pelbagai macam alasan kenapa kelompok tertentu berkeinginan untuk menghegemoni kelompok lainnya ialah perlindungan dan menciptakan rasa aman. Padahal aksi yang kemudian dalam era modern dikenal dengan sebutan imperalisme dan kolonialisme ini oleh kelompok lain justru dianggap mendatangkan ketidak nyamana sendiri bahkan tidak sedikit disebut sebagai penjajahan dan terjajah daripada yang diselamatkan atau diberi rasa aman.

Review terhadap imperium-imperium masa lampau, sebut saja Romawi, Yunan, Persia dan kekuasaan-kekuasaan yang eksis pada masanya saling silih berganti memperebutkan wilayah pendudukannya, terutama pada wilayah-wilayah strategis seperti Timur Tengah. Kompetisi hegemoni terhadap wilayah tersebut berlanjut ketika Islam hadir di tanah Arab, dimana pasukan Crussader dari tanah Eropa menjadi kompetitornya. Namun isu yang diangkat tampaknya sedikit berbeda dengan imperium-imperium sebelumnya, dimana perang ideologi agama Islam dan Kristiani disebut-sebut sebagai penyebabnya. Meskipun pada perkembangannya, orientasi ideologi terlakalahkan oleh misi ekonomi yang muncul. Tampaknya motif ekonomi memang satu-satunya alasan logis dan utama terhadap kolonialisme dan imperalisme itu sendiri.

Di era modern, praktik kolonialisme semakin memiliki identitasnya yang asli. Usainya perang Salib dan lahirnya revolusi industri menjadikan Barat menyusun agenda kolonialismenya dengan lebih mapan. Dengan mottonya Gold, Gospel dan Glorry menghantarkan Eropa terbilang cukup sukses menghegemoni dunia, utamanya Asia dan Timur Tengah. Untuk Timur Tengah Eropa tampaknya berhasil menghegemoni dengan cara persuasif daripada konfrontatif yang mengangkat senjata sebagaimana pada perang Salib.

Untuk wilayah bulan sabit subur atau Asia kecil dan Afrika utara, agenda kolonilisme Eropa lebih didominasi dengan cara perdagangan produk-produk hasil revolusi industri. Namun ada nilai lebih pada wilayah Teluk, dimana selain melalui misi dagang, Eropa terutama Inggris dielu-elukan oleh masyarakat setempat karena tindakannya dalam memberi rasa aman terhadap ancaman bajak laut dan perompak yang bercokol di persisir pantai semenanjung Arab. Bermodal dari keberhasilan membangun hegemoni saat itu membawa dampak yang sangat berarti bagi masa depan pengaruh Inggris di wilayah tersebut hingga saat ini.

Ke era yang lebih kontemporer, hegemoni Eropa, dalam hal ini dunia Barat secara umum semakin memperluas pengaruhnya pada bidang yang lebih luas. Terlebih dengan hadirnya Amerika di antara negara-negara Eropa yang telah bersaing dari awal. Meskipun tidak mengenyampingkan rangkaian proses yang dilakukan oleh Eropa di masa lalu, kehadiran Amerika di Timur Tengah merupakan sesuatu yang lain dalam peta penyebaran pengaruh dunia Barat terhadap wilayah ini. Bagaiman tidak, Amerika bisa disebut sebagai pendatang baru yang menyadari adanya potensi-potensi besar dalam bidang ekonomi. Hal ini tidak terlepas oleh karena Amerika sendiri merupakan negara baru. Meskipun pendatang baru, pada perkembangannya justru Amerika lah yang dominan dalam upayanya mengeruk segala pundi-pundi ekonomi dibandingkan dengan negara-negara Eropa.

Sebelum berbicara mengenai motif ekonomi dari sektor apa saja yang dimanfaatkan atau dieksplor oleh Barat, perlu dicermati bagaimana Barat menghegemoni Timur Tengah di era kontemporer. Negara-negara bangsa berdiri dan berdaulat di bawah wewenang Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dengan begitu praktik Kolonialisme dan Imperalisme tak dibenarkan. Namun pada kenyataannya hegemoni berhasil ditanamkan oleh Barat. Karena bagaimanapun, keberhasilan hegemoni membawa dampak besar terhadap kesuksesan ekplorasi ekonomi dikemudian waktu.

Diamini atau tidak tampaknya Barat terutama Amerika menyengejakan dirinya untuk tetap hadir di Timur Tengah dengan cara agresi militer. Dengan dalih memerangi terorisme dan pengendalian senjata pemusnah massal, Amerika berhasil meletakan pondasi hegemoni secara paksa di tanah Arab. Aksi Amerika tersebut tidak terlepas oleh peristiwa serangan terhadap WTC pada 11 Septer 2001. Namun, tampaknya baik Afghanistan maupun Irak adalah korban dari kesombongan keadidayaan negeri Paman Sam. Karena banyak pihak yang menyebut bahwa peristiwa WTC merupakan konspirasi awal Amerika sendiri untuk mendapatkan alasan tepat untuk hadir di Timur Tengah.

Jika menengok apa yang dikatakan oleh Samuel Hutington dalam bukunya Class of Civilizations, tampaknya Amerika benar-benar menyengajakan diri mencari sparing partner yang sepadan pasca kemenangannya pada perang dingin dengan Uni Sovyet. Kemenangan tersebut juga menjadi pertanda kemenangan sistem ekonomi kapitalisme dan liberalism dari sosialisme yang dicanangkan oleh Uni Soviet. Dengan begitu, bisa jadi kehadiran Amerika di Timur Tengah merupakan cara yang ditempuh oleh Amerika dan Barat secara umum untuk menyebarkan sistem ekonomi tersebut. Dalam sistem kapitalisme, pemegang modal memiliki berbagai hak previlage dalam melakukan permainan ekonomi di pasar.

Sebagai pelaku sistem ekonomi kapitalis dan liberalis, Barat sangat membutuhkan dunia ketiga untuk mempertahankan hidupnya. Apalagi Barat yang tak memiliki sumber daya alam cukup merupakan negara-negara industri yang membutuhkan pangsa pasar dan Timur Tengah merupakan pasar besar bagi produk-produk jadi Barat. Namun di sisi lain, untuk memenuhi keberlangsungan proses industri, Barat membutuhkan minyak bumi untuk menghidupkan mesin-mesin industri. Maka dari itu sangat penting bagi Barat untuk memastikan pasokan minyak Timur Tengah yang melimpah kepadanya. Sehingga, motif minyak dibalik hegemoni Barat selama ini sangatlah logis.

Selain minyak, sebagaimana yang disebut di atas bahwa Timur Tengah merupakan pasar menjanjikan atas produk-produk industri Barat. Salah satunya yang akan menjadi pembahasan ke depan adalah produk-produk persenjataan. Selain itu, ada sektor lain yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat dunia, yaitu motif produksi Narkotika yang dijalankan bersama oleh negara-negara Barat di wilayah konflik. Perlu kiranya ulasan yang cukup untuk mengeksplorasi sisi lain motif ekonomi Barat terhadap wilayah Timur Tengah.

A. Perdagangan Senjata

Dengan menghegemoni Timur Tengah, Barat menjadikannya sebagai pangsa pasar atas produk-produk industri mereka, baik produk garmen hingga produk senjata. Apapun yang dijual, tentu nilai ekonominya sangat tinggi, apalagi untuk ukuran satuan produk senjata yang harganya di atas USD 1000. Pada tahun 2004 saja, Amerika mencatat pendapatannya pada angka 18.5 miliyar dolar, angka ini sangat fantastis. Sementara itu melihat data yang ada, negara-negara berkembang Timur Tengah pada urutan tertinggi dalam pembelian senjata.

Peres (1993) mengamati bahwa ada keterkaitan antara konflik/permasalahan tingkat tinggi antara aksi militer yang kerap terjadi dan permasalahan ekonomi yang terjadi di Timur Tengah. Selain pengaruh perekonomian, ada satu pertanyaan lain yang kemudian muncul yaitu apakah ada hubungan antara jual beli senjata dan konflik di kawasan tersebut. Dalam operai militer gurun di kawasan Teluk pada 1991 misalnya, kebutuhan pasokan senjata berikut dan ikut campur negara pemasoknya menjadi wahana politis di mata dunia.

Dalam usahanya menjadi pemasok senjata di kawasan timur tengah, Amerika berbenturan dengan sebuah dilema (Cordesman 1993). Akibat kedekatan hubungannya dengan Israel, Amerika tidak dapat berleluasa menjual senjatanya di beberapa negara di kawasan ini. Parlemen negeri paman sam itu mempunyai aturan yang melarang memasok senjata ke Negara-negara yang dianggap mengancam keamanan Israel. Konskwensinya, kebutuhan senjata di beberapa negara Timur Tengah yang menyatakan konfronytasinya dengan Israel, dipasok oleh negara lain, baik dari sekutu Amerika sendiri maupun dari Rusia dan China. Tentu, secara ekonomi dan politik merugikan Amerika.

Dikesampingkannya Amerika, pasokan senjata di sebagian wilayah dipenuhi oleh Inggris, Prancis, Jerman dan Italia, dengan total pasokan seperempat dari Amerika. Peta penjualannya; Kuwait dipasok oleh Amerika, Uni Emirat Arab dipasok oleh Prancis dan Oman oleh Inggris. Adapun negara-negara Eropa Barat memasok senjata ke wilayah-wilayah yang berkonfrontasi dengan Amerika, seperti Iran dan Afghanistan. Dengan keberaniannya, seolah-olah mereka mempersenjati beberapa negara yang dalam tanda kutip mengancam keamanan Israel. Bagaimanapun situasi ini negara-negara Eropa barat diuntungkan, disamping adanya jaminan pasokan minyak bumi sebagai hasil timbal balik kepentingan internasional antar dua kubu.

Dalam kasus perdagangan senjata di Timur Tengah, dua aspek kuantitaf dan kualitatif harus diperhatikan. Sejak tahun 1967, Jumlah tank tempur darat dan pesawat perang naik sangat tajam di kawasan berpontensi perang seperi di Timur Tengah. Kesenjangan teknologi senjata utama negara Nato dan negara-negara Timur Tengah menyempit secara signifikan dengan penyebaran pesawat jet supersonik dan rudal kendali, serta pengenalan teknologi perang elektronik ke Timur Tengah. Dengan kata lain, sistem persenjataan mereka setara dengan negara-negara adidaya (Maull: 1990).

Namun, fakta lain yang kemudian muncul adalah rendahnya kualitas senjata dan minimnya perawatan dan perbaikan. Satu contoh ektrim menimpa Tank tempur Abram produksi Amerika yang dibeli oleh Kuwait. Beberapa alutsista tersebut tidak dapat segera diperbaiki ketika terjadi kerusakan di lapangan. Beberapa faktor penyebabnya adalah minimnya ketersediaan suku cadang dari pusat produksi pertahanan Amerika, yang mana suku cadangnya tidak diproduksi lagi. Ketidak tersediaan produksi suku cadangnya merupakan imbas dari pengembangan alutsista modern, dimana alutsista lama dianggap barang rongsokan. Padahal antara pihak negara-negara pemasok telah menandatangi MOU terhadap jaminan operasional dan suku cadangnya. Pemasalahan ini menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara pemasok, dimana mereka semakin mempertimbangkan adanya beban tanggung jawab yang akan berlanjut. Mungkin, menghentikan permintaan merupakan jalan yang akan diambil.

Pasca konflik terbaru di kawasan Teluk, muncul perhatian serius tentang hubungan antara angkatan perang dan keamanan. Pada 9 Mei 1991, George Bush, Presiden Amerika saat itu, mengungkapkan secara detail sebuah inisiatif untuk membantu kontrol militer di Timur Tengah (Sadowski 1993). Salah satu inisiatifnya, Bush bernegosiasi dengan Negara-negara pengekspor senjata agar mengurangi pasokan senjatanya ke wilayah tersebut.

Jika diamati lebih jernih Timur tengah merupakan kawasan berpotensi konflik yang salah satu pemicunya adalah persaingan persenjataan. Suasananya diperkeruh persaingan senjata mengundang campur tangan negara-negara pamasok. Sehingga terbentuk blok-blok berbeda berdasar negara pemasoknya. Terbentuknya blok-blok tersebut seakan memperlebar kekuataan militer negara pemasok ke wilayah-wilayah konsumen. Dalam artian ada persekutuan antara pemasok dan konsumen, disamping motif ekonomi.

Yang menarik, Revolusi bernama Arab Spring yang melanda di Negara-negara Arab sejak 2011 hingga saat ini, yaitu adanya pihak yang untung atau memanfaatkan situasi. Pihak tersebut salah satunya adalah Inggris. Seperti yang dilansir oleh Global Muslim Community (9/2011), kutipan dari majalah Times mengungkapkan bahwa Inggris meningkatkan ekspor senjatanya hingga 30 persen ke Timur Tengah dan Negara-negara Afrika Utara, yang menjadi pusat gerakan protes anti rezim otoriter di kawasan tersebut. Inggris menjual senjata senilai 30,5 juta pound ke berbagai negara termasuk Bahrain dan Arab Saudi antara bulan Februari dan Juni tahun 2011. Jika dibandingkan dengan tahun 2010 pada periode yang sama, angka tersebut mengalami peningkatan 30 persen yang sebelumnya terpaut pada angka 22 juta pound. Sebelum Dewan Keamanan PBB memberlakukan embargo suplai senjata ke Libya pada Februari, Inggris telah menyuplai amunisi kepada rezim Libya senilai 64,000 pound. Sepertinya, ada standar ganda yang diterapkan pemerintah Inggris menyusul kecaman keras London atas represi rezim-rezim penguasa di Timur Tengah terhadap para demonstran revolusi di Timur Tengah.

Undang-undang Inggris tidak mengijinkan penjualan senjata yang dipergunakan untuk represi dalam negeri, penyerangan ke negara lain, begitu juga jika penjualan senjata itu akan semakin memanaskan konflik bersenjata. Di lain pihak, organisasi perdamaian terbesar di Inggris, Stop the War Coalition (STWC), dalam laporannya menyebutkan bahwa Inggris merupakan salah satu penjual senjata terbesar kepada rezim-rezim penindas dan korup. Menurut lembaga perdamaian itu, dari 26 negara yang menurut Inggris memiliki rapor HAM yang mengkhawatirkan, London menjual senjatanya ke 16 negara di antaranya.

Sementara itu, di kawasan Timur Tengah sendiri, Iran telah diembargo atas penjualan senjata ke negeri itu oleh adidaya Global melalui kekuatan Amerika dan PBB. Namun, baru-baru ini, Iran merilis bahwa ia tidak hanya memproduksi dan memiliki senjata, akan tetapi menyatakan Iran siap mengekspor senjatanya ke negeri lain. Ahmad Vahidi, Menteri Pertahanan Iran mengatakan, bahwa Iran berhasil swasembada di sektor produksi masal atas alutsiswa, berupa tank, artileri, helikopter dan bahkan kapal perang.

 

B. Produksi dan Perdagangan Narkotika

Perdagangan Narkotika adalah salah satu elemen utama dalam isu permasalahan multinasional. Konsentrasi permasalahan ini mencakup segala operasi dari proses produksi hingga pemasarannya. Lebih jauh lagi, keuntungan yang diperoleh atas industri ini sangat fenomenal, bahkan ketika dikait-kaitkan dengan pendanaan aksi separatis, terorisme, kriminal dan tentunya korupsi di negera-negara tertentu (Clutterbuck 1994).

Timur Tengah merupakan kawasan yang tak terlepas dari kasus Obat-obatan, baik yang merusak maupun yang menimbulkan efek kecanduan, seperti heroin hingga Qat, perangsang yang berkadar ringan (bius). Produksi dan perdagangangannya di kawasan ini menjadi salah satu basis utama di dunia. Produksi terbesar dunia atas Opium atau apiun yang merupakan getah bahan baku Narkotika pun dihasilkan kawasan Timur Tengah. Produksi Opium dunia sendiri terkonsentrasi dalam dua area utama; yaitu area Segitiga Emas yang mencakup Myanmar, Laos dan Thailand; dan area Bulan Sabit Emas yang mencakup Pakistan, Afganistan serta Iran. Menurut data Perserikatan Bangsa Bangsa, Afghanistan saat ini merupakan penghasil opium terbesar di dunia, dengan total produksi mencapai 87 % dunia.

Sejak 2001, Amerika menyerang Afghanistan dengan dalih misi penyelamatan HAM atas kesewenang-wenangan militan Thaliban yang dianggap teroris oleh negara adidaya itu. Fakta penting yang perlu disimak adalah merebaknya kemunculan kelompok Islam Salafi (Thaliban). Fakta lainnya produksi opium di Afghanistam meningkat seiringan dengan intervensi militer Amerika Serikat dan Uni Soviet pada perang dingin. Dalam menggelontorkan dana bantuan keuangan Amerika dan Saudi Arabia kepada kelompok perlawanan Afghanistan, badan intelijen Pakistan Inter-Service Intelligence (ISI) memberikan setengah dana bantuannya kepada dua kelompok fundamentalis Islam Tahliban Afghanistan. Dua kelompok tersebut masing-masing dipimpin oleh Gulbuddin Hekmatyar dan Abdul Razul Sayyaf. Keduanya dianggap bisa dikendalikan oleh Pakistan, Saudi Arabia dan Amerika, karena kedua tokoh sentral fundamentalis Islam tersebut tidak memiliki dukungan yang mengakar di kalangan masyarakat Afghanistan.

Hekmatyar, dengan perlindungan sepenuhnya dari ISI dan CIA, memberikan kompensasi timbal balik atas perannya sebagai agen perpanjangan tangan Amerika dan Pakistan di Afghanistan. CIA dan ISI memberikan bantuan dan menfasilitasi Hekmatyar dan Abdul Razul Sayyaf dalam pengembangan produksi dan perdagangan opium dan narkoba. Begitulah, kedua badan intelijen tersebut merestui dan mendukung dari belakang perdagangan opium, heroin dan narkoba tersebut. Bantuan dan dukungan badan tersebut tentu tidak tanpa alasan, karena bisa dipastikan motif politik dan ekonomi adalah tujuan yang sebenarnya.

Adanya larangan Pakistan atas penanaman opium pada Februari 1979 dan diikuti oleh Iran pada April 1979, tidak diimbangi dengan pengawasan dari para penegak hukum. Di wilayah kekuasaan Suku Pastun yang berlokasi di Pakistan dan Afghanistan, telah menarik minat para kartel pedagang obat bius untuk mengadu untung dalam perdagangan barang haram ini. Bahkan para pengejar kekayaan asal Eropa dan Amerika, dengan tanpa ragu kemudian mendirikan fasilitas pemprosesan heroin di wilayah kekuasaan suku Pastun tersebut.

Pada 1976, laboratorium narkotika dibuka di provinsi North-West frontier. Fakta ini bersumber dari Majalah Canadian Maclean’s pada April 1979. Menurut Alfred McCoy, pada 1980 para pedagang opium dan obat bius dari Pakistan dan Afghanistan dikuasai sepenuhnya menguasai pasar eropa. Bahkan berhasil menguasai 60 persen kebutuhan pengguna opium di Amerika. Dalam catatan McCoy, Gulbuddin Hekmatyar menguasai enam laboratorium pembuatan opium dan heroin di daerah Baluchistan, wilayah yang sepenuhnya berada dalam kendali ISI.

Desakan untuk menghancurkan laboratorium pembuatan ganja memang sempat menjadi pilihan kebijakan yang diajukan kepada pemerintah Amerika. Namun dengan berbagai alasan politis, Amerika menolak desakan tersebut. Pada 2001, Taliban dan Osama bin Laden diperkirakan oleh CIA akan mendapat pendapatan dari hasil Narkoba sebesar 10 persen dari total pendapatan hasil perdagangan barang haram tersebut. Itu berarti, Osama bin Laden dan Taliban diperkirakan mendapat perolehan nominal sebesar Rp 6,5 sampai 10 miliar dolar Amerika per tahun.

Ketika Amerika melancarkan serangan militer pertama kali ke Afghanistan pada 2001, menurut Ahmad Rashid, Pentagon memiliki daftar sekitar 25 laboratorium pemrosesan dan gudang obat bius di Afghanistan. Namun pihak Amerika, khususnya Pentagon, menolak membom tempat-tempat tersebut. Alasannya, itu merupakan aset bisnis milik CIA dan sekutu lokalnya the North Alliane (Aliansi Utara). Rashid ketika itu mendapat keterangan dari beberapa pejabat UNDODC, bahwa Amerika sebenarnya tahu lebih banyak tentang keberadaan lokasi beberapa laboratorium obat bius tersebut. Sehingga penolakan Pentagon untuk membom laboratorium obat bius tersebut, pada perkembangannya merupakan sebuah kemunduran bagi upaya kontra perdagangan narkotika dan obat bius.

C. Kesimpulan

Terlalu banyak potensi Timur Tengah yang dapat dieksplor, baik dari sisi sosio-politiknya maupun ekonominya. Selain merupakan induk dari peradaban dunia dan lahirnya tiga agama besar Samawi; Islam, Kristen dan Yahudi, Timur Tengah menyimpan sumber daya alam yang luar biasa, utamanya pada minyak buminya. Dengannya, negara-negara Barat dan Timur saling bersaing untuk menanamkan hegemononinya. Selain memperebutkan pasokan minyak bumi dari Timur Tengah, Barat mempunyai kepentingan lain yaitu menjadikannya lahan pasar atas produk idustrinya. Salah satu produk yang dijual Barat ialah teknologi persenjataan yang nilai ekonominya sangat besar. Selain itu, produksi Narkotika yang ada di Golden Cressent (Pakistan, Afghanistan dan Iran) menjadi daya tarik tersendiri bagi Barat untuk mengumpulkan pundi-pundi ekonomi dari Timur Tengah.

 

Pustaka Rujukan:

 

“Ditulis berdasarkan karya Ewan W. Anderson dalam bukunya “The Middle East – Geography & Geopolitics” cetakan Roudledge, London, tahun 2000.”

Dilengkapi dengan beberapa referensi lain, di antaranya:

  • Philip K. Hitti. 2010. History of the Arabs (terjemahan). Serambi. Jakarta.
  • Michael C. Hudson. 1977. Arab Politics – The Search for Legitimacy. New Haven and London Yale University Press. Amerika.

Serta beberapa referensi Online, diantaranya;

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344