Tenaga kerja merupakan salah satu isu penting Timur Tengah. Pertumbuhan ekonomi Timur Tengah, terutama oleh karena sektor minyak bumi yang mendukung pendapatan wilayah tidak diimbangi dengan skil yang cukupuntuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Sehingga impor tenaga kerja pun dilakukan, terutama pada pos-pos tenaga professional. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan masyarakat Timur Tengah yang masih tergolong rendah.

Kini masyarakat terdidik Timur Tengah jumlahnya tak lagi sedikit. Namun kurang pemeretaan pendidikan tampaknya tetap menjadikan tenaga kerja sebagai salah satu persoalan. Bias ketenaga kerjaan ini mencolok sekali terlihat dimana antara negara-negara Teluk kaya minyak dan negara-negara Arab wilayah bulan sabit subur. Sehingga tak sedikit masyrakat Arab dari negara tertentu menjadi buruh di negara Arab tertentu. Namun lagi-lagi keterampilan yang minim menjadikan tenaga kerja tidak mendapatkan upah yang compatible.

Di Arab Saudi, aturan upah minimum tenaga kerja diatur sangat ketat, dimana penanggung jawab pekerja dikenakan hukuman oleh pemerintah jika gagal membayar upah minimum. Namun pada fakta lapangan Saudi justru tidak punya patokan yang baku yang mengaturnya. Seperti halnya Saudi menetapkan upah minimum sebesar 1500 SAR per bulan untuk pekerja di sektor swasta. Tercatat pada data lembaga Salary Exploreryang menyatakan bahwa upah terendah Saudi Arabia pada angka 833 SAR dan upah tertinggi mencapai 95.000 SAR dengan jenis keterampilan professional sebagai Construction Supervisor, Purchasing Manajer, dan Internal Audit Manajer.

Jika dilihat sejarah Ketenaga kerjaannya, angkatan kerja Arab Saudi telah mengalami perubahan yang sangat besar pada paruh kedua abad kedua puluh sebagai akibat dari runtuhnya cara tradisional mata pencaharian dengan cara nomadisme pastoral menuju kebangkitan ekonomi modern. Sejumlah besar masyrakat Saudi pindah dari pekerjaan tradisional ke sektor layanan pemerintah. Banyak pekerja asing juga dibawa ke kerajaan oleh sektor swasta. Tenaga kerja domestik tumbuh rata-rata 5 persen per tahun antara tahun 1975 dan 1985, meskipun pertumbuhan penduduk tahunan termasuk yang tertinggi di dunia sebesar 3,5 persen, namun tenaga kerja asing masih diperlukan. Perkiraan bervariasi, namun sebuah sumber terpercaya Barat menunjukkan bahwa total lapangan kerja tumbuh dari lebih dari 1,7 juta pada tahun 1975 menjadi 2,2 juta pada 1980. Tenaga kerja dalam negeri berjumlah 1 juta orang (58 persen dari total tenaga kerja) pada tahun 1975. Pada tahun 1980, tenaga kerja asing telah meningkat dari 723.000 pada tahun 1975 menjadi lebih dari 1 juta (atau 46 persen dari total tenaga kerja).

Di Saudi Arabia, jam kerja dalam seminggu cenderung bervariasi antara 40-48 jam, tergantung pada kebijakan perusahaan. Jam kerja biasanya dimulai 8:30 atau 9:00 waktu setempat hingga pukul 5:30 atau 6:00. Tidak ada perbedaan jam kerja antara musim panas dan dingin, hanya saja ketika bulan Ramadhan tiba jam kerja hanya berlaku 6 jam perhari dan berlaku untuk semua staf. Namun di beberapa perusahaan tertentu teruatama perusahaan asing hanya memberlakukan jam kerja Ramadhan ini hanya kepada tenaga kerja Muslim dan berpuasa pada siang hari.

Adapun di Uni Emirat Arab, tepat di Dubai upah minimum yang diperoleh oleh pekerja berkisar antara $ 160 sampai $ 220 perbulan tergantung pada tingkat keterampilan. Jumlah tersebut belum termasuk tunjangan living cost yang disedikan oleh perusahaan. Namun baru-baru ini para pekerja kelas bawah ini menuntut kenaikan upah bulananan sebesar $ 50 sampai $ 80 dan melakukan aksi mogok kerja untuk itu.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344