Dewan kerjasama negara-negara Teluk yang dibentuk oleh Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman dan Uni Emirat Arab didirikan untuk melaksanakan koordinasi, integrasi dan kerjasama bidang-bidang ekonomi, sosial dan budaya. GCC sendiri diharapkan dapat menyatukan kebijakan-kebijakan sektor ekonomi, pertahanan dan luar negeri di kalangan anggotanya guna mewujudnkan stabilitas kawasan Teluk. Meskipun mendeklarasikan diri sebagai organisasi kerjasama berbagai bidang, akan tetapi pada praktiknya sektor ekonomi lah yang lebih ditekankan.

Ada beberapa fakta menarik dari keanggotaan GCC ini. Dari segi sistem kekuasaan/sistem pemerintahannya, keenam negara Teluk ini merupakan negara yang menerapkan sistem kekuasaan monarki, dimana kekuasan diberikan turun temurun kepada putra mahkota. GCC pun sering disebut sebagai kelompok negara-negara monarki tanah Arab. Aliansi negara-negara monarki tanah Arab ini penulis rasa sangatlah penting di tengah-tengah zaman demokratis saat ini. Apalagi saat ini mereka dihadapkan dengan peristiwa Arab Spring, dimana di masyrakat Arab di beberapa negara menuntut diselenggarakannya demokrasi di tengah rezim-rezim otoriter. Negara-negara GCC perlu saling bersinergi untuk menjaga stabilitas pemerintahan negara anggotanya, karena satu anggota tergoyah oleh Arab Spring, maka masyarakat pada anggota GCC lain akan terinspirasi. Upaya menjaga stabilitas antar anggota GCC ini sebagaimana yang diterapkan di Bahrain, dimana Arab Saudi menjadi bumper utama pemerintah Bahrain di tengah tuntutan oposisi.

Fakta menarik lainnya yakni semua negara anggota GCC merupakan negara-negara dengan sumber daya alam minyak bumi yang sangat melimpah. Negara anggota GCC memiliki cadangan minyak bumi terbesar di kawan Timur Tengah, atau peringkat kedua setelah Venezuella, bahkan secara akumulatif GCC merupakan rumah bagi 60 persen cadangan minyak dunia. Dengan realita ini, pantas jika GCC juga disebut sebagai perkumpulan Bos Minyak Timur Tengah.

Selain kepentingannya untuk menjaga stabilitas dalam negeri dan transaksi perdagangan antar negara anggota, dalam tataran dunia Internasional, GCC juga mempunyai kepentingan terhadap wilayah-wilayah lain, terutama orientasinya terhadap Eropa dan Amerika. Meskipun rakyat dari negara anggota GCC mempunyai latar belakang Islam fundamentalis yang kuat, akan tetapi pada kenyataanya GCC sangat harmonis dengan dunia Barat.

Baik Barat maupun GCC saling mendapat keuntungan dari kerjasama yang mereka jalani. Barat sebagai negara industri membutuhkan minyak bumi untuk menghidupkan turbin mesin-mesin industrinya, bahkan bisa dikatakan sangat tergantung pasokannya dari Timur Tengah, karena minimnya SDA yang dimiliki. Sementara itu di pihak GCC, tentu mendapatkan bayaran yang layak dan melimpah atas perdagangan minyaknya terhadap negara-negara Eropa. Selain itu lebih lanjut antara GCC dan Barat, terutama dengan Amerika telah terbentuk satu aliansi pertahanan. Sebagaimana yang aliansi Bahrain pertahanan dengan berdirinya pangkalan militer Amerika di negeri tersebut. Padahal GCC sendiri secara terbuka menolak setiap bentuk aliansi dan pakta pertahanan antara negara-negara di kawasan ini dan kekuatan-kekuatan asing.

Melihat fakta-fakta ini, tampaknya kerjasama ekonomi yang digadang-gadang masih menyisakan banyak tanda tanya daripada realisasi kongkritnya. Karena pada perjalanannya, GCC lebih gencar mengurusi masalah-masalah politik kewilayahan dibandingkan perkembangan capaian ekonomi yang diinginkan. Asumsi ini bukan tanpa alasan, karena hingga detik ini sektor makro GCC sangat kecil jumlahnya dibandingkan organisasi-organisasi kerjasama ekonomi lainnya di dunia, seperti Uni Eropa dan Asean. Tampaknya aktifitas ekonomi GCC masih bersifat konsumtif untuk sektor idustri.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344