Timur Tengah merupakan istilah lain untuk menyebut dunia Arab pada umumnya. Kawasan ini terdiri dari seluruh kawasan teluk dan kawasan Afrika bagian utara. Masyarakatnya merupakan keturunan ras Semit yang asal usulnya masih diperdebatkan, apakah dari Mesir sebagaimana peradaban tertuta atau dari Jazirah Arab.

Bahasa mayoritas yang digunakan tak hanya bahasa Arab dan turunan bahasa Arab itu sendiri, akan tetapi juga bahasa asing seperti bahasa Perancis dan Italia pun digunakan di wilayah-wilayah tertentu, sebagai dampak asimilisasi peradaban kolonialisme Barat. Pada masa dahulu, masyarakat Arab berpola hidup momaden, berpindah-pindah dari oase satu ke oase lain dan tak jarang terlibat pertikaian antara kabilah/klan yang kisah-kisahnya didokumentasikan dalam bentuk prosa Ayyam al `Arab.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini memudahkan masyarakat dunia untuk memperoleh informasi mengenai dunia Timur Tengah, baik melalui literatur-literatur yang ada pada instansi pendidikan dan pembelajaran maupun dari headline-headline pemberitaan yang mereka baca atau saksikan di media-media masa. Akan tetapi, karena kebanyakan dari masyarakat dunia mendapatkan informasi dengan cara seperti ini, maka informasi yang tertangkap pun tak menyeluruh, atau setengah-setengah. Sehingga dalam stigma masyarakat dunia, baik di sisi dunia Timur maupun Barat, Timur Tengah tergambar sebagai kawasan yang hari-harinya penuh dengan peperangan, pertikaian, kerusuhan dan lebih mengenaskan lagi sebagai dalang dari aksi terorisme dunia. Selain, itu dalam stigmanya, Timur Tengah hanya berbangsa satu yaitu Arab itu sendiri dan beragama Islam. Sehingga dalam benak mereka, Timur Tengah merupakan kawasan dimana bangsa Arab dan Islam berada. Padahal sebagaimana di wilayah-wilayah lain, keragaman masyarakat itu selalu ada. Anggapan bahwa hanya Arab dan Islam yang berada di kawasan timur tengah merupakan hal yang salah. Selain itu, anggapan bahwa Arab adalah Islam pun juga salah, karena pada kenyataannya tidaklah demikian. Geografis Timur tengah terlalu luas untuk hanya didiami oleh satu bangsa dan satu agama saja.

Mayoritas masyarakat Timur Tengah merupakan bangsa Arab dan mayoritas beragama Islam. Tidak salah jika masyarakat dunia mengenalnya demikian. Selain suku bangsa Arab, di kawasan Timur tengah terdapat suku bangsa lain seperi Kurdi, Persia, Israel, Armenia dan Tuki serta Yunani. Namun entitas dari kebudayaan mereka telah berbaur menjadi satu dengan budaya Arab oleh karena proses asimilasi yang terjadi pada masa penyebaran ajaran Islam. Entitas budaya suku bangsa yang bisa dikatakan masih kental hingga saat ini ialah Persia dan Turki yang semakin kesini menunjukan identitas lain dibandingkan bangsa Arab pada umumnya.

Sebagaimana suku bangsa Arab, Islam merupakan agama mayoritas yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Timur Tengah. Jumlah mereka pun tidak sedikit, bahkan di beberapa negara tertentu di kawan ini, non Islam merupakan agama mayoritas yang dianut oleh penduduknya, bahkan sekte-sekte yang ada dalam salah satu agama tersebut terbilang cukup banyak dibandingkan dengan yang ada di dalam agama Islam itu sendiri. Selain Islam, Kristen dan Yahudi merupakan agama terbesar dari sisi penganutnya di Timur Tengah. Ketiga agama ini merupakan agama Samawi, agama langit dan ketiganya juga lahir di Timur Tengah. Ketiga agama ini juga memiliki akar konflik panjang hingga saat ini, terutama antara Islam dan Yahudi. Dibandingkan dengan konflik Islam-Yahudi pada era modern saat ini, konflik Islam-Kristen terlebih dahulu terjadi, yaitu antara pasukan Shalahuddin al-Ayyubi dan pasukan Crussader dari Eropa. Akan tetapi peta konflik keduanya berubah oleh misi pemburuan harta karun kolonialisme Barat, meskipun misionaris kristiani tetap menjadi salah satu tujuannya. Sementara itu konflik Islam-Yahudi yang terjadi dalam satu abad terakhir ini sebenarnya merupakan konflik pendudukan wilayah antar bangsa, yaitu bangsa Israel dan Palestina yang kebetulan beragama Yahudi dan Islam. Namun oleh beberapa kelompok tertentu konflik keduanya diperluas dengan membawa masuk faktor agama di dalamnya.

Sebagaimana sejarah, baik Yahudi maupun Kristiani berasal dari bangsa yangh sama yaitu Israel itu sendiri. Namun oleh orang-orang Yahudi, Isa (baca:Yesus) yang juga Israel diusir oleh karena ajarannya yang menentang ritual-ritual Yahudi yang menyimpan. Yahudi, oleh ajaran Yesus bahkan termaktub dalam Al-Quran disebut sebagai “domba-domba yang tersesat”.

Umat Kristiani di Timur Tengah tidaklah sama dengan umat kristiani pada umumnya, apalagi dibandingkan dengan yang ada di Indonesia. Kristen atau Cristianity di Timur Tengah bukanlah agama yang dibawa oleh misionari kolonialis Barat mulai abad 17 hingga 19. Kristen telah berada di Timur Tengah 6 abad sebelum Islam dibawa oleh Muhammad, yaitu dimana awal tahun masehi bermula, tahun dimana Isa (baca:Yesus) dilahirkan.

Saat ini umat Kristiani di Timur Tengah terdiri dari pelbagai macam aliran, diantara yaitu; Koptik, Maronit, Ortodoks Rusia, Ortdoks Yunani, Katolik Roma, Ortodoks Armenia, Katolik Armenia, Assyrian dan Protestan. Kelompok-kelompok ini mempunyai liturgi peribadatan dan ritual-ritual yang berbeda, beragam dan begitupun uskup-uskupnya. (PBS, Middle East, Religions: pbs.org)

 

Sekte Koptik

Kelompok umat kristiani Koptik atau Gereja (baca:sekte) Koptik banyak dijumpai di Mesir, terutama di kota Alexandria dan Cairo. Aliran ini didasarkan pada ajaran yang dibawa oleh Saint Mark yang membawa agama Kristen ke Alexandria pada masa pemerintahan Romawi, yaitu pada abad pertama masehi (Encyclopedia Coptica: coptic.net). Selanjutnya, Gereja Koptik juga disebut sebagai Gereja Alexandria. Sekte Koptik disebut sebagai ajaran kristiani yang sangat dekat pemahaman ketauhidannya dengan Islam, dimana Yesus (baca:Isa) hanya dianggap sebagai Rasul, bukanlah Tuhan.

Meskipun Koptik merupakan gereja dalam Kristen itu sendiri, akan tetapi di dalamnya terdapat sekte. Sekitar abad ke 5 masehi, gereja ini diguncang oleh Bidaah Monophysite yang menentang sifat kemanusiaan Yesus. Dengan adanya bidaah ini, maka Gereja Alexandria (Koptik) terpisah menjadi dua, yaitu yang Katolik dan yang Monophysites. Karena guncangan ajaran inilah konon menjadi salah satu penyebab lemahnya umat Koptik di Mesir, sehingga Islam masuk pada abad ke-7. Namun karena perkembangan dan asimilasi yang terjadi antar sekte, justru kelompok Kristiani selain kelompok Katolik-lah yang kemudian disebut sebagai Koptik.

Cara beribadah mereka ternyata mirip dengan penganut Islam. Dalam sehari mereka melakukan 7 kali shalat (as sab’u shalawat) yaitu pada pukul 06.00 (mirip Subuh), 09.00 (mirip Dhuha), 12.00 (mirip Zhuhur), 15.00 (mirip Ashar), 18.00 (mirip Maghrib), menjelang tidur (mirip Isya’), dan tengah malam (mirip Tahajjud). Selain itu mereka juga berpuasa selama 40 hari menjelang perayaan Paskah. Dan, berbeda dengan penganut Kristen lainnya, mereka merayakan Natal bukan pada 25 Desember melainkan 7 Januari. Mereka sendiri memang membedakan diri dengan penganut Kristen lainnya karena mereka mengaku mendapatkan syiar agama lewat orang-orang suci pada zaman-zaman awal. (Tentang Gereja Kristen Koptik: Katolistas.org).

 

Sekte Maronit

Maronit merupakan salah satu sekte dalam ajaran Kristiani di Timur Tengah. Maronit memiliki dasar yang hampir mirip dengan ajaran Katolik sehingga sering disebut juga sebaga agama Katolik Timur. Maronit muncul pertama sekali diawali dari penghormatan orang-orang kepada seorang biarawan yang dianggap memiliki kehidupan asketik, biarawan Maron. Tahun 410 masehi, untuk mengenang kematiannya itulah, orang-orang di Anthiokia membuat suatu gereja yang dinamakan Gereja Maronit. Namun pada tahun 451 masehi terjadi peristiwa pembataian di anthiokian. Dampaknya, para kaum maronit terpaksa harus mengungsi ke pegunungan Lebanon dan bertahan hingga saat ini dengan ke-khasannya.

Katolik Maronit dipimpin oleh seorang Patriark. Dan patriark pertama Maronit adalah Yohanes Maron yang terpilih pada tahun 685. Pada awalnya, Maronit adalah agama Katolik yang menggunakan bahasa Aram (bahasa zaman Yesus) sebagai bahasa ibadah. Dan seiring perkembangan zaman, Maronit menggantinya dengan bahasa Arab sejak abad ke-18. Maronit semakin ‘unik’ karena merupakan agama Kristen Katolik satu-satunya yang masih menggunakan bahasa Aram pada proses Misa mereka.

Selain Maronit dan Koptik, sekte-sekte dalam ajaran Kristiani yang masih ada hingga saat ini diantara yaitu Ortdoks Armenia, Katolik Armenia dan Ortodoks Syiria serta beberapa sekte Ortodoks yang berada di Irak dan Iran. Baik Ortodoks Armenia maupun Katolik Armenia memiliki ujung sejarah awal yang sama yaitu pada ajaran Kristiani Greogorius yang hidup sekitar abad ke-3. Namun perpecahannya menjadi Ortodoks dan Katolik karena terpengaruh oleh perubahan yang terjadi terhadap ajaran Kristen dunia secara menyeluruh.

 

Umat Kristiani Dalam Tatanan Sosio-Politik Timur Tengah

Sebagaimana sekelompok minoritas pada sebuah masyarakat mayoritas pada umumnya di beberapa penjuru dunia, kelompok minoritas Kristiani di Timur Tengah pun cenderung terpinggirkan dalam tataran sosio-politik masyarakat kawasan secara umum. Namun kondisi ini tak berlaku pada negara tertentu, sebagaimana yang terjadi di Lebanon, dimana di negara tersebut umat Kristiani, utamanya Maronit merupakan mayoritas dibanding dengan komunitas keberagamaan lainnya.

Umat kristiani di Timur Tengah pada umumnya merupakan bangsa Arab yang nenek moyangnya menurunkan agama kepercayaannya hingga saat ini. Artinya mereka bukanlah kelompok beragama yang dihasilkan oleh misionaris kolonialis sebagaimana kaum Kristiani di Asia dan Amerika. Mereka merupakan bangsa Arab yang sebelum Islam hadir telah menganut ajaran Kristiani. Sehingga dengan realita ini, anggapan setiap Arab adalah Muslim tidaklah benar. Bahkan dalam tataran dunia, Kristen Arab tidak hanya dijumpai di wilayah-wilayah Arab seperti Lebanon, Syiria, Palestina, Mesir, Yordania, Irak saja, akan tetapi juga dapat ditemui di benua Afrika dan Eropa. Jumlah orang-orang Arab Kristen yang berimigrasi keluar tanah airnya ini semakin meningkat beriringan dengan tragedi Arab Spring yang menimpa negara-negara Arab dalam 3 tahun terakhir ini. Ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka ini keluar dari tanah kelahirannya, yaitu eksodus untuk mendapatkan hak dan jaminan terhadap status minoritas mereka di Timur Tengah.

Selama ini umat Kristen Timur Tengah turut andil di pelbagai bidang sistem kehidupan bermasyarakat yang ada, termasuk dalam pemerintahan. Di Lebanon misalnya, meskipun umat Muslim secara akumulatif Sunni-Syiah mencapai 59 persen atau mayoritas akan tetapi kedua sekte dalam Islam ini tidak dapat disatukan, sehingga kelompok Kristen dengan beberapa sektenya bersatu dan mampu mengangkangi mayoritas kelompok Muslim. Dengan porsi populasi keberagaman yang ada, Lebanon terbentuk menjadi negara demokratis parlementer yang menggunakan sistem pemerintahan khusus, yaitu konfensionalisme. Dengan sistem ini menjamin terhindarnya konflik sektarian Lebanon yang berkepanjangan dengan cara membagi secara adil distribusi demografis sekte-sekte keagamaan yang ada. Pembagian ini merupakan hasil dari persetujuan tidak tertulis tahun 1943 antara Presiden (Maronit) dan Perdana Menteri waktu itu (Sunni) dan baru diformalkan dengan konstitusi pada tahun 1990. Sistem konfensionalisme Lebanon menyatakan bahwa Presiden Lebanon haruslah seorang Kristen Katolik Maronit, Perdana Menteri seorang Muslim Sunni, Wakil Perdana Menteri seorang Kristen Ortodoks dan Ketua Parlemen seorang Muslim Syi'ah.

Adapun kedudukan kaum Koptik di Mesir tidak seberuntung saudara mereka yang ada di Lebanon. Di Mesir tidak ada aturan baku yang mengatur porsi khusus untuk mereka. Jumlah umat Koptik berkisar 9 persen dari 85 juta jiwa rakyat Mesir yang ada. Meskipun umat Koptik merupakan minoritas di Mesir, akan tetapi dari sisi jumlah jiwanya merupakan kelompok umat Kristiani terbesar jika dibandingkan dengan yang ada di negara-negara lain, bahkan dengan mayoritas Kristiani di Lebanon sekalipun. Dalam memperoleh hak politiknya, kelompok koptik sama statusnya dengan kelompok masyarakat Mesir pada umumnya, yaitu dengan cara memilih wakil untuk duduk di kursi legislatif pada pemilihan umum yang diselenggarakan.

Adapun dalam sosial kemasyarakatan, antara Muslim dan Koptik merupakan perwujudan sebuah tatatanan masyarakat yang tentram, saling menghargai dan menghormati. Dalam pergaulan keseharian, kadang-kadang sulit membedakan mana Muslim dan mana Koptik kecuali setelah melihat mereka pergi ke tempat ibadah masing-masing. Bila pernah terjadi semacam perselisihan antara kedua belah pihak, umumnya hampir tidak pernah disebabkan masalah-masalah yang berbau SARA, akan tetapi lebih disebabkan tindak kriminal biasa, walupun sebagian pihak baik di dalam maupun luar negeri mencoba memanfaatkannya dengan menonjolkan unsur SARA dan itulah yang tampaknya terjadi pada masyarakat Mesir pasca Arab Spring.

 

 

 

 

Masa Depan Umat Kristiani Pasca Arab Spring

Pecahnya Arab Spring yang berturut turut melanda Tunisia, Mesir, Libya Yaman, Bahrain dan Suriah yang belum berakhir hingga saat ini tampaknya memberi warna tersendiri bagi kehidupan beragama di Timur Tengah. Dunia Arab yang selama ini didominasi oleh bentuk demokrasi sekular dan mengenyampingkan pemerintahan berbasis Islam dianggap sebagai rumah yang aman bagi komunitas minoritas, terutama oleh umat Kristiani. Namun Arab Spring yang dimotori dan dimenangkan oleh kelompok Islamis tampaknya mengubah rasa aman yang telah ada. Kelompok Islamis yang dimaksud dalam hal ini baik yang merupakan kelompok Islam Sunni maupun Islam Syiah.

Di Lebanon, perwujudan sistem konfesionanalisme yang diterapkan sejak 1943 mungkin akan tergoyah dengan semakin bertambahnya kwantitas kelompok Syiah yang di negera tersebut. Syiah yang mulanya merupakan minoritas kini jumlahnya meningkat tajam. Peningkatan jumlah tersebut juga menempatkan Syiah dengan garda politiknya Hezbullah sebagai dominator dalam pemilihan umum Lebanon, meskipun untuk memangku pemerintahan Hezbullah gagal berkoalisi dengan kelompok-kelompok lain.

Di Tengah pertikaian antara kelompok Sunni dan Syiah di negara tersebut, kelompok Maronit bisa berada posisi yang diuntungkan juga bisa berada diujung tombak. Maronit bisa memanfaatkan perseteruan Sunni-Syiah untuk mengamankan posisinya dalam pemerintahan, karena suara Maronit bisa menjadi suara kunci dominasi antara keduanya. Namun Maronit harus waspada, karena keduanya bisa mengancam kehidupannya. Kalaupun kerjasama terbentuk antara Maronit dan Muslim (baik Sunni maupun Syiah), penulis berasumsi bahwa hal tersebut bukanlah aliansi permanen, akan tetapi aliansi politis yang syarat dengan nuansa pragmagtisme. Kondisi yang kurang menentu ini mengakibatkan terjadinya eksodus umat Kristiani ke negara-negara yang dianggap dapat memberikan kenyamanan dan rasa aman dibandingkan tanah airnya, baik Amerika dan Eropa maupun di tanah Arab sendiri.

Irak adalah kasus yang terpisah. Setelah invasi Anglo-Amerika pada tahun 2003, orang-orang Kristen Assyrian yang merupakan penduduk asli, kebanyakan adalah orang-orang Chaldean, harus menanggung penganiayaan sehingga banyak dari mereka akhirnya meninggalkan Irak, sehingga menyebabkan jumlah mereka berkurang dari sebelumnya 1 juta orang menjadi hanya 400 ribu orang saat ini. Sementara itu di Suriah, dimana jumlah orang Kristen adalah 10 persen dari populasi, mereka merupakan sekutu dekat rejim Bashar al-Assad. Suriah sendiri diperintah oleh minoritas Alawit melalui partai Ba’ath. Yang mungkin menjadi ketakutan orang Kristen Suriah adalah jika rezim ini jatuh ke tangan mayoritas Sunni, maka mereka pun akan diperlakukan sama dengan orang-orang Alawit. Rezim Assad dianggap telah melaksanakan toleransi keagamaan. Orang-orang Suriah, saat ini melihat setan-setan sektarian yang ada di Irak telah lepas dari kandangnya, dan sebelumnya juga sudah terjadi di Lebanon.

Dalam kasus Koptik Mesir, sebenarnya ketegangan antara kelompok agama di negara tersebut bisa dimanfaatkn momen Arab Spring yang terjadi. Pasalnya, 25 hari sebelum pecahnya reformasi/revolusi Mesir yaitu pada tanggal 1 Januari 2011 terjadi pengeboman terhadap gereja di Alexandria. Tragedi tersebut memang mendapat kecaman dari pelbagai pihak, baik dari Paus Gereja Mesir maupun dari Grand Syeikh Al-Azhar. Secara resmi, Syeikh Azhah, Prof. Dr. Ahmed Al-Thayeb mengunjungi Paus dan menjawab pernyataan Paus Benediktus XVI yang menyerukan perlindungan kaum minoritas di Mesir. Menurut Syeikh Azhar, Mesir, baik pemerintah maupun rakyatnya menolak istilah “minoritas” terhadap kelompok Koptik. Koptik bukanlah minoritas, mereka adalah ashalah “originalitas” Mesir itu sendiri. (Kompas: 05/01/2011).

Pasca Husni Mubarak tergulingkan, isu ketegangan terhadap Koptik kembali teruji. Meski latar belakang konflik adalah konflik antar keluarga, namun membesar menjadi konflik antar agama. Yang pasti ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi ini, sehingga rasa nyaman yang selama berabad-abad terbina antara masyarakat Koptik dan Islam tergoyah. Eksodus, berimigrasi ke negara-negara kantong kristiani seperti Amerika dan Eropa pun tampaknya tidak terelakan. Lebih lanjut dengan Ikhwanul Muslimin mendominasi pemerintahan, maka jaminan kehidupan mereka tak terjamin lagi.

Rasa cemas dan eksodus yang dilakukan oleh kaum minoritas Kristiani tampaknya terlalu berlebihan. Karena pada kenyataanya, tak satupun kelompok Islam dalam ranah percaturan Arab Spring yang menyatakan perlawanannya terhadap mereka. Bahkan untuk kasus Mesir, pemerintahan Ikhwanul Muslimin mengangkat seorang wakil presiden dari kalangan Koptik dan satu wakil presiden dari kalangan perempuan. Untuk pertama kalinya Koptik menempati jabatan tertinggi di Mesir.

Penulis berasumsi bahwa rasa tidak aman dan nyaman serta tidak adanya jaminan hak kehidupan bagi minoritas Kristiani di Timur Tengah merupakan kesimpulan individu atas perlakuan beberapa individu dari kalangan ekstrimis mengatasnamakan Islam yang memanfaatkan momentum Arab Spring. Karena secara komunitas tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab atas konflik yang timbul antara keduanya. Karena bagaimanapun menipisnya jumlah minoritas Kristiani di tanah Arab berarti semakin memiskinkan budaya Arab itu sendiri. Lebih jauh, latar belakang terjadinya eksodus sangat merugikan dunia Arab di mata Internasional. Stigma bahwa dunia Arab merupakan Islam dan ekstrim akan semakin melekat. Maka dari itu menjaga kehadiran umat Kristiani di Timur Tengah adalah tugas umum bagi setiap masyarakatnya, terutama umat Islam.

 

Referensi:

  • Philip K. Hitti. 2010. History of the Arabs. Jakarta. Serambi.
  • Perspectives, Global. Middle East – People. [Online].

http://www.cotf.edu/earthinfo/meast/MEpeo.html

  • Central Intellegece Agency. 2013. The World Factbook –Middle East. [Online]. https://www.cia.gov/library/publications/the-world/factbook/geos/eg.html
  • Islam Times. 2013. [Online]. http://www.islamtimes.org/
  • Voa Indonesia. 2011. [online]. http://m.voaindonesia.com

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344