Kesuksesan revolusi Industri pada abad ke-17 di Eropa menandai era baru kolonialisme modern, dimana agenda perdagangan produk idustri ke mancanegara merupakan tujuannya. Revoulis industri semakin mencapai puncaknya ketika Kolonialis Barat menemukan minyak bumi di Timur Tengah pada awal abad ke-20 sebagai pengganti bahan bakar batu baru dan mesin uap. Sejak saat itu Timur Tengah tak hanya menjadi lahan pasar idustri Eropa akan tetapi juga menjadi objek ekplorasi minyak bumi yang menjanjikan, bahkan kilang-kilang minyak bermodal dan ditenagai oleh orang-orang Barat semakin menjamur dimana-mana. Penemuan ini sangat menguntungkan di tengah-tengah masyarakat Timur Tengah yang cukup terbilang bodoh saat itu.

Masyarakat Timur Tengah baru menyadari potensi-potensi sumber daya alam yang mereka punya setelah sebagian besar sumber minyak diduduki oleh asing. Baru semenjak tahun 1950, tekanan dari negeri-negeri penghasil minyak melakukan upaya perubahan di dalam kesepakatan antara negara penghasil dan perusahaan pengeksploitasi (dalam hal ini Barat), hingga saham mereka menjadi 50% dari pendapatan bersih perusahaan-perusahaan tersebut. Usaha negeri-negeri penghasil nampaknya mulai membuahkan hasil, setelah 1960, mereka (tak hanya yang ada di Timur Tengah) secara bersama-sama membentuk sebuah organisasi negara pengekspor minyak (OPEC), yaitu sebuah organisasi yang bertujuan memajukan front bersama dalam negosiasi dengan perusahaan-perusahaan minyak besar.

Usaha ini sangat penting artinya, karena minyak merupakan sumber pendapatan yang menjanjikan. Bahkan dalam beberapa negara Timur Tengah, minyak merupakan sumber utama Gross National Product (GNP) yang angkanya bisa mencapai 60 persen, seperti di Kuwait dan Qatar. Melimpahnya pendapatan yang diperoleh ini menjadikan ekonomi negara-negara tersebut berada di atas negara-negara lain non penghasil minya, bahkan bisa dikatakan ada kesenjangan yang cukup jauh. Namun yang perlu diperhatikan ialah bagaimana sebuah negara dengan cadangan minyak bumi tinggi mampu memanfaatkan untuk pembangunan secara maksimal,

Jika kita perhatikan ada perkembangan cukup siginifikan setelah negara-negara penghasil minyak memperoleh hak yang lebih atas produksi minyak buminya. Di negara-negara Teluk, perkembangan tersebut sangat terlihat, dimana pada setengah abad yang lalu negara-negara ini terlihat sangat jauh dari peradaban dan kemajuan. Namun saat ini telah berubah menjadi sebuah negara dengan komunitas masyarakat yang modern. Bahkan negara-negara teluk seperti Uni Emirat Arab dan Qatar serta Oman telah mengantisipasi jiak sewaktu-waktu cadangan minyak bumi mereka habis, yaitu dengan cara mengembangkan sektor jasa dan wisata yang didanai dari pendapatan sektor minyak. Usaha semacam ini telah berhasil dilakukan oleh Uni Emirat Arab dengan mega proyek kota Dubai dan Abu Dabi-nya.

Di negara lain seperti Irak dan Iran, sektor minyak dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendanai pembangunan sektor pertanian. Dengan hasil ekspor minyaknya, untuk pertama kali Irak memungkinkan melaksanakan pembangunan irigasi dan pengendalian banjir. Untuk lebih meningkatkan pendapatannya, pada 1950, sebuah dewan pengembangan dibentuk yang tugasnya mengontrol sebagian besar pendapatan dari minyak. Dewan ini juga bertugas untuk mengolah pendapatannya untuk kebutuhan pembangunan Irak, diantaranya; pembangunan dam-dam di anak sungai Tigris untuk pengairan lahan pertanian.

Selain bernilai ekonomis dan penyokong pelaksanaan pembangunan, minyak juga dapat digunakan sebagai senjata politik. Peristiwa geopolitik yang mempengaruhi pasokan minyak berikut harganya sudah kerap terjadi, seperti embargo minyak oleh Liga Arab pada perang Arab-Israel pada tahun 1974 dan revolusi Iran pada 1979 yang diikuti perang Irak-Iran.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344